Pharmacy

    What's New Here?


    Penggunaan Suplemen asam lemak Omega-3 tidak efektif untuk mengobati mata kering

    Berita Medis Univadis
    16 April 2018



    Sementara banyak merekomendasikan penggunaan suplementasi asam lemak omega-3 oral untuk meringankan gejala keratoconjunctivitis sicca, atau penyakit mata kering, temuan dari percobaan baru menunjukkan bahwa mereka mungkin tidak bermanfaat.

    Sebagai bagian dari penilaian mata kering dan manajemen (DREAM) percobaan, 349 pasien dengan penyakit mata kering sedang sampai berat diacak untuk menerima dosis oral harian dari 3000 mg asam eicosapentaenoic dan docosahexaenoic yang diturunkan dari ikan atau plasebo minyak zaitun.

    Setelah 12 bulan, tanda dan gejala penyakit mata kering telah membaik pada kedua kelompok, tetapi penulis penelitian mengatakan tidak ada bukti efek yang menguntungkan dari suplemen asam omega-3 dibandingkan dengan suplemen plasebo di antara pasien dengan penyakit mata kering.

    "Kami terkejut bahwa suplemen omega-3 tidak memiliki efek yang menguntungkan," kata Vatinee Y. Bunya, salah satu penulis studi tersebut."Hasilnya signifikan dan dapat mengubah cara banyak dokter mata dan dokter mata memperlakukan pasien mereka."

    Temuan ini dipublikasikan di New England Journal of Medicine .

    Referensi

    Kelompok Peneliti Kelompok Studi Mata Kering dan Manajemen. n − 3 Suplemen Asam Lemak untuk Pengobatan Penyakit Mata Kering. N Engl J Med. 13 April 2018. DOI: 10.1056 / NEJMoa1709691 

    Penggunaan Asam Lemak Omega 3 Tidak Efektif Untuk Mata Kering


    Penggunaan Suplemen asam lemak Omega-3 tidak efektif untuk mengobati mata kering

    Berita Medis Univadis
    16 April 2018



    Sementara banyak merekomendasikan penggunaan suplementasi asam lemak omega-3 oral untuk meringankan gejala keratoconjunctivitis sicca, atau penyakit mata kering, temuan dari percobaan baru menunjukkan bahwa mereka mungkin tidak bermanfaat.

    Sebagai bagian dari penilaian mata kering dan manajemen (DREAM) percobaan, 349 pasien dengan penyakit mata kering sedang sampai berat diacak untuk menerima dosis oral harian dari 3000 mg asam eicosapentaenoic dan docosahexaenoic yang diturunkan dari ikan atau plasebo minyak zaitun.

    Setelah 12 bulan, tanda dan gejala penyakit mata kering telah membaik pada kedua kelompok, tetapi penulis penelitian mengatakan tidak ada bukti efek yang menguntungkan dari suplemen asam omega-3 dibandingkan dengan suplemen plasebo di antara pasien dengan penyakit mata kering.

    "Kami terkejut bahwa suplemen omega-3 tidak memiliki efek yang menguntungkan," kata Vatinee Y. Bunya, salah satu penulis studi tersebut."Hasilnya signifikan dan dapat mengubah cara banyak dokter mata dan dokter mata memperlakukan pasien mereka."

    Temuan ini dipublikasikan di New England Journal of Medicine .

    Referensi

    Kelompok Peneliti Kelompok Studi Mata Kering dan Manajemen. n − 3 Suplemen Asam Lemak untuk Pengobatan Penyakit Mata Kering. N Engl J Med. 13 April 2018. DOI: 10.1056 / NEJMoa1709691 

    Assalamualaikum, kali ini saya akan membagikan sebuah praktikum emulsi berikut saya lampirkan

           I.            Tujuan
    a.       Dapat menentukan tipe emulsi
    b.      Mengetahui teknik pembuatan emulsi

        II.            Data Preformulasi
    A.       Zat aktif
    Parafin cair
    a.       Warna                          : tidak berwarna dan transparan

    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.    Kelarutan                      : praktis tidak larut dalam air dan dalam   etanol (95 %), larut dalam kloform dan eter. P
    f.        Bobot  jenis                  : 0.870 – 0.890 gram/cm3
    g.       Stabilitas                       : mudah terurai dengan adanya cahaya dan  udara
    h.       Inkompatibilitas            : ketidak campuran dengan zat pengoksida lain yang kuat.

    B.     Zat tambahan
    Veegum
    a.       Warna                          : putih sampai putih kekuningan
    b.      Rasa                             : hampir tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk hablur
    e.       Kelarutan                     : praktis tidak larut dalam alkohol, dalam air dan pelarut organik.
    f.        Bobot  jenis                  : gram/cm3
    g.       pH larutan                    : 1 - 4
    h.       Stabilitas                       : stabil pada kondisi kering
      Stabil pada pH luas
     Menyerap bahan organik

    i.         Inkompatibilitas            : veegum dapat menyerap beberapa obat yang memiliki ikatan rapat.

    Cetyl alkohol
    a.       Warna                          : basa putih
    b.      Rasa                             : rasa lemah
    c.       Bau                              : bau khas
    d.      Pemerian                      : granul
    e.       Kelarutan                     :praktis tidak larut dalam etanol 95% dan eter, larut dengan adanya peningkatan temperatur, praktis tidak larut dalam air.
    f.        Titik lebur                     : 45.52 0C
    g.       Stabilitas                       : - stabil dengan adanya asam, alkali dan air
    -         Tidak tengik
    h.       Inkompatibilitas            : ketidak campuran dengan pengoksida kuat

    Pulvis Gummi Acaciae / PGA
    a.       Warna                          : putih atau hampir kekuningan
    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk
    e.       Kelarutan                     : larut hampir sempurna dalam air, tapi sangat lambat. Praktis tidak larut dalam etanol dan eter.
    f.        Stabilitas                       : mudah terurai oleh udara dan bakteri sehingga menimbulkan reaksi enzimatik.
    g.       Inkompatibilitas            : amydopirin, apomorfin, anesol, etanol 95 %, garam feri, fenol banyak mengandung garam dan menurunya viskositas.

    Carboxy Metyl Cellulosum Natrium / CMC Na
    a.       Warna                          : putih sampai krem
    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk atau granul
    e.       Kelarutan                     : mudah terdispersi dalam air, praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter.
    f.        Titik lebur                     : 2270 C, keadaan terbakar 2520 C
    g.       pKa/pKb                     : 4.30
    h.       Bobot  jenis                  : 0.78 gram/cm3
    i.         pH larutan                    : 7 - 9
    j.        Stabilitas                       : bersifat stabil meskipun bahan yang higroskopis
    k.      Inkompatibilitas            : Na- CMC tidak bercampur dengan asam kuat, logam, presipitas terjadi pada pH < 2 dan ketika bercampur dengan etanol 95 % Na-CMC dapat membentuk kompleks dengan gelatin dan pektin.

    Sorbitan Monoleat 80 ( span 80 )
    a.       Warna                          : cairan kental kuning
    b.      Rasa                             : pahit
    c.       Bau                              :memiliki bau yang khas
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.       Kelarutan                     : pada umumnya larut atau terdispersi daam minyak, larut dalam pelarut organik dan praktis tidak larut dalam pelaeut organik.
    f.        Stabilitas                       : perlahan akan membentuk busa dengan adanya asam kuat dan basa stabil terhadap asam lemah dan basa lemah.
    g.       HLB                             : 4.3

    Polioksietilen Sorbitan Monoleat 80 ( tween 80 )
    a.       Warna                          : cairan minyak kuning
    b.      Rasa                             : pahit
    c.       Bau                              : bau yang khas dan hangat
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.       Kelarutan                     : larut dalam air dan etanol, praktis tidak larut dalam minyak mineral dan minyak sayur.
    f.        Stabilitas                       : stabil terhadap elektrolit dan asam lemah, dengan perlahan akan terbentuk saporifikasi dengan asam kuat dan basa kuat.
    g.       Inkompatibilitas            : dapat terjadi pengandapan dan pelunturan warna dengan beberapa zat.

     III.            Alat dan Bahan

    Alat
    Bahan
    -  Tabung sedimentasi
    -  kaca arloji
    - Gelas kimia
    - Cawan penguap
    - Batang pengaduk
    - Stirer
    - Mortir

    - parafin cair
    - Emulgator alam ( PGA, Tragakan)
    - tween 80
    - span 80
    - acetyl alkohol
    - CMC Na


      IV.            Perhitungan dan Penimbangan
    A.     Perhitungan
    1.   parafin cair 30 % sebanyak 100 ml
    30/100 x 100 ml = 30 gram
    2.   PGA 10 %
    10/100x 100 ml = 10 gram dan air = 1.5x 10 = 15 ml
    3.   CMC Na 0.5 %
    0.5/100x 100 ml = 0.5 gram dan air = 20x 0.5 = 10 ml
    4.   Veegum 1 %
    1/100x 100 ml = 1 gram dan air = 24x 1 = 24 ml
    5.   Tragakan 2 %
    2/100x 100 ml = 2 gram dan air = 7x 2 = 14 ml
    6.   Tween dan span 80( 6 %) dalam 100 ml
    6/100 x 100 = 6 gram
    (x. 15) + (6-x).4.3 = 6 . 12
    15x + 25.8 – 4.3    = 72
    10.7x                     = 46.2
    x                           = 4.31 gram
    jadi : tween 80 = 4.31 gram
             span  80   = 6 – 4.31 = 1.68 gram
    7.   Tween dan span 80 (3 %) dalam 100 ml

    3/100 x 100 = 3 gram
    (x. 15) + (3.x).4.3 = 3 . 12
    15x + 12.9 – 4.3    = 36
    10.7x                     = 23.1
    x                           = 2.16 gram
    jadi : tween 80 = 2.16 gram
             span  80   = 3 – 2.16 = 0.84 gram

    B.     Penimbangan
    o   Parafin cair 30 %   = 30 gram
    o   PGA 10 %            = 10 gram
    o   CMC Na 0.5 %    = 0.5 gram
    o   Veegum 1 %          = 1 gram
    o   Tween 80 3%        = 2.16 gram
    o   Span 80 3%          = 0.84 gram
    o   Tween 80 6 %       = 4.31 gram
    o   Span 80 6%          = 1.68 gram        

         V.            Prosedur
    1.      Pembuatan emulsi (metode korpus basah)
    o   Di kembangkan emulgator alam dengan air
    o   Di campurkan dengan parafin cair, lalu di aduk kuat sampai terbentuk korpus emulsi (campuran minyak, air dan emulgator)
    o   Di tambahkan bahan tambahan (zat pengawet, penstabil, perasa dan lain-lain) yang dilarutkan dahulu dalam sedikit  fase luar lalu di campur dengan emulsi utama.
    o   Di masukan dalam tabung sedimentasi dan genapkan sampai volume 100 ml.

    2.      Pembuatan emulsi (metode korpus kering)
    o   Didihkan air yang akan di gunakan
    o   Di campurkan emulgator, air dan parafin cair tanpa mengmbangkan emulgator  terlebih dahulu
    o   Di tambahkan bahan tambahan (zat pengawet, penstabil, perasa dan lain-lain) kemudian di campur dengan emulsi utama dan sisa air sambil di aduk cepat sampai mencapai volume yang diinginkan pada tabung sedimentasi.

    3.      Pembuatan emulsi tanpa korpus
    o   Di campurkan parafin cair dan PGA sekaligus  tanpa di kembangkan terlebih dahulu
    o   Di tambahkan air 50 ml lalu di kocok dengan stirer selama 2 menit
    o   Di masukan ke dalam tabung sedimentasi.

    4.      Pembuatan emulsi dengan surfaktan
    o   Di campurkan parafin cair dan span 80 lalu di panaskan pada suhu 60-700C
    o   Di campurkan dengan tween 80 di tambah air dalam cawan
    o   Di campurkan ke dua campuran, di kocok dengan stirer
    o   Di masukan dalam tabung sedimentasi dan digenapkan sampai 100 ml

      VI.            Data Pengamatan
    formula
    Organ oleptik
    Voleme sedimentasi (ml)
    rasa
    bau
    warna
    10
    20
    30
    60
    120
    1hari
    3hari
    Emulsi (basah)
    Tidak berasa
    Tidak berbau
    putih susu
    -
    -
    0.07
    0.13
    -
    1.19
    0.4
    Emulsi (kering)
    Tidak berasa
    Tidak berbau
    Putih susu
    -
    -
    0.29
    0.29
    -
    1.07
    0.44
    Emulsi (surfaktan)
    Tidak berasa
    tengik
    Putih susu
    0.4
    0.49
    0.52
    0.56
    -
    1.7
    0.37

    VII.            Pembahasan
    Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairanya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa (pendispersi), sisitem ini di sebut emulsi minyak dalam air dan sebaliknya, jika air yang merupakan fase terdispersi dan minyak sebagai pembawa, sistem ini di sebut air dalam minyak.
                Seperti yang di ketahui bahwa emulsi merupakan sistem dua cairan yang tidak bercampur serta tidak stabil karena berbentuk globul-globul pada fase pendispersi atau pembawa, dengan demikian agar emulsi tetap stabil maka harus di tambahkan emulgator. Emulgator dapat bekerja dengan dua tahapan yaitu :

    1.      Tahap Disrupsi : emulgator bekerja dengan pemecahan minyak menjadi globul-globul yang kecil sebagai bahan terdispersi, sehingga lebih mudah terdispersi dalam fase pendispersi atau pembawa.
    2.      Tahap Stabilisasi : bekerja dengan menstabilkan globul-globul yang terbentuk dengan cairan pembawa sehingga emulsi yang terbentuk tidak terpisah menjadi fase tunggal.

    Salah satu emulgator yang sering di gunakan dalam dunia farmasi yaitu golongan surfaktan. Surfaktan memiliki mekanisme kerja dengan menurunkan tegangan permukaan atau antarmuka antara minyak dengan air seh ingga air dan minyak lebih mudah bercampurserta membentuk film monomolekuler pada permukaan fase terdispersi.

    Beberapa contoh ketidak stabilan emulsi antara lain :
    a.       Koalesen : campuran globul dalam jumlah yang banyak sehingga menjadi besar.
    b.      Flukulasi : globul- globul kecil yang memiliki ikatan yang tidak kuat sehingga tidak bercampur dengan sempurna.
    c.       Kreaming : pecahnya globul-globul kecil sehingga tidak bercampur dan terjadi dua fase.
    d.      Breaking : dimana minyak dan air tidak bercampur sama sekali dan membentuk dua fase secara langsung.
    Pada formulasi sediaan emulsi yang akan mempengaruhi sediaan farmasi yaitu di lihat dari bahan tambahan (exipient) seperti :

    o   Pengawet
    Pada penambahan pengawet memerlukan bahan tambahan antimikroba karena fase air merupakan tempat yang sangat mudah di tumbuhi mikroorganisme. Adanya pengawet sangat penting dalam emulsi minyak dalam air karena kontaminasi eksternal mudak terjadi.
    o   Anti oksidan
    Dalam sediaan emulsi berfungsi mencegah terjadinya reaksi osidasi.
    o   Pemanis
    Sediaan emulsi merupakan sediaan yang memiliki rasa yang kurang sedap karena terdiri dari minyak apalagi tipe emulsi air dalam minyak sehingga rasa minyak tidak tertutupi, maka dengan penambahan pemanis sangat di perlukan untuk menutupi rasa.
    o   pewarna


    VIII.            Usulan Formula
    1.      Parafini Emulsum ( Emulsi Parafin )
    Ø  Tiap 100 ml mengandung : ( Formularium Nasional edisi 2 thn 1978 hal 227 )
    -          Paraffinum Liquidum           50 ml
    -          Gummi Arabicum                12,5 gram
    -          Sirupus Simplex                  10 ml
    -          Vanillinum               4 mg
    -          Aethanolum 90 %   6 ml
    -          Aqua Destillata       ad        100 ml
    2.      Parafini Phenolphtalein Emulsi ( Emusi Parafin Fenolftalein )
    Ø  Tiap 100 ml mengandung : ( Formularium Nasional edisi 2 thn 1978 hal 228 )
    -          Phenolphtaleinum    300 mg
    -          Paraffinum Liquidum           50 ml
    -          Gummi Arabicum                12,5 gram
    -          Saccharrinum Natricum       5 mg
    -          Acidi Benzoici solutio          2,5 ml
    -          Vanillinum               50 mg
    Aqua Destillata             ad        100 m

      IX.            Kesimpulan
                 Simpulkan sendirinya ya.


         X.            Daftar Pustaka
    Farmakope Indonesia edisi III  tahun 1997. halaman 47
    Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995.  Halaman 175 dan 718

    Laporan Praktikum Emulsi Lengkap Docx

    Assalamualaikum, kali ini saya akan membagikan sebuah praktikum emulsi berikut saya lampirkan

           I.            Tujuan
    a.       Dapat menentukan tipe emulsi
    b.      Mengetahui teknik pembuatan emulsi

        II.            Data Preformulasi
    A.       Zat aktif
    Parafin cair
    a.       Warna                          : tidak berwarna dan transparan

    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.    Kelarutan                      : praktis tidak larut dalam air dan dalam   etanol (95 %), larut dalam kloform dan eter. P
    f.        Bobot  jenis                  : 0.870 – 0.890 gram/cm3
    g.       Stabilitas                       : mudah terurai dengan adanya cahaya dan  udara
    h.       Inkompatibilitas            : ketidak campuran dengan zat pengoksida lain yang kuat.

    B.     Zat tambahan
    Veegum
    a.       Warna                          : putih sampai putih kekuningan
    b.      Rasa                             : hampir tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk hablur
    e.       Kelarutan                     : praktis tidak larut dalam alkohol, dalam air dan pelarut organik.
    f.        Bobot  jenis                  : gram/cm3
    g.       pH larutan                    : 1 - 4
    h.       Stabilitas                       : stabil pada kondisi kering
      Stabil pada pH luas
     Menyerap bahan organik

    i.         Inkompatibilitas            : veegum dapat menyerap beberapa obat yang memiliki ikatan rapat.

    Cetyl alkohol
    a.       Warna                          : basa putih
    b.      Rasa                             : rasa lemah
    c.       Bau                              : bau khas
    d.      Pemerian                      : granul
    e.       Kelarutan                     :praktis tidak larut dalam etanol 95% dan eter, larut dengan adanya peningkatan temperatur, praktis tidak larut dalam air.
    f.        Titik lebur                     : 45.52 0C
    g.       Stabilitas                       : - stabil dengan adanya asam, alkali dan air
    -         Tidak tengik
    h.       Inkompatibilitas            : ketidak campuran dengan pengoksida kuat

    Pulvis Gummi Acaciae / PGA
    a.       Warna                          : putih atau hampir kekuningan
    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk
    e.       Kelarutan                     : larut hampir sempurna dalam air, tapi sangat lambat. Praktis tidak larut dalam etanol dan eter.
    f.        Stabilitas                       : mudah terurai oleh udara dan bakteri sehingga menimbulkan reaksi enzimatik.
    g.       Inkompatibilitas            : amydopirin, apomorfin, anesol, etanol 95 %, garam feri, fenol banyak mengandung garam dan menurunya viskositas.

    Carboxy Metyl Cellulosum Natrium / CMC Na
    a.       Warna                          : putih sampai krem
    b.      Rasa                             : tidak berasa
    c.       Bau                              : tidak berbau
    d.      Pemerian                      : serbuk atau granul
    e.       Kelarutan                     : mudah terdispersi dalam air, praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter.
    f.        Titik lebur                     : 2270 C, keadaan terbakar 2520 C
    g.       pKa/pKb                     : 4.30
    h.       Bobot  jenis                  : 0.78 gram/cm3
    i.         pH larutan                    : 7 - 9
    j.        Stabilitas                       : bersifat stabil meskipun bahan yang higroskopis
    k.      Inkompatibilitas            : Na- CMC tidak bercampur dengan asam kuat, logam, presipitas terjadi pada pH < 2 dan ketika bercampur dengan etanol 95 % Na-CMC dapat membentuk kompleks dengan gelatin dan pektin.

    Sorbitan Monoleat 80 ( span 80 )
    a.       Warna                          : cairan kental kuning
    b.      Rasa                             : pahit
    c.       Bau                              :memiliki bau yang khas
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.       Kelarutan                     : pada umumnya larut atau terdispersi daam minyak, larut dalam pelarut organik dan praktis tidak larut dalam pelaeut organik.
    f.        Stabilitas                       : perlahan akan membentuk busa dengan adanya asam kuat dan basa stabil terhadap asam lemah dan basa lemah.
    g.       HLB                             : 4.3

    Polioksietilen Sorbitan Monoleat 80 ( tween 80 )
    a.       Warna                          : cairan minyak kuning
    b.      Rasa                             : pahit
    c.       Bau                              : bau yang khas dan hangat
    d.      Pemerian                      : cairan kental
    e.       Kelarutan                     : larut dalam air dan etanol, praktis tidak larut dalam minyak mineral dan minyak sayur.
    f.        Stabilitas                       : stabil terhadap elektrolit dan asam lemah, dengan perlahan akan terbentuk saporifikasi dengan asam kuat dan basa kuat.
    g.       Inkompatibilitas            : dapat terjadi pengandapan dan pelunturan warna dengan beberapa zat.

     III.            Alat dan Bahan

    Alat
    Bahan
    -  Tabung sedimentasi
    -  kaca arloji
    - Gelas kimia
    - Cawan penguap
    - Batang pengaduk
    - Stirer
    - Mortir

    - parafin cair
    - Emulgator alam ( PGA, Tragakan)
    - tween 80
    - span 80
    - acetyl alkohol
    - CMC Na


      IV.            Perhitungan dan Penimbangan
    A.     Perhitungan
    1.   parafin cair 30 % sebanyak 100 ml
    30/100 x 100 ml = 30 gram
    2.   PGA 10 %
    10/100x 100 ml = 10 gram dan air = 1.5x 10 = 15 ml
    3.   CMC Na 0.5 %
    0.5/100x 100 ml = 0.5 gram dan air = 20x 0.5 = 10 ml
    4.   Veegum 1 %
    1/100x 100 ml = 1 gram dan air = 24x 1 = 24 ml
    5.   Tragakan 2 %
    2/100x 100 ml = 2 gram dan air = 7x 2 = 14 ml
    6.   Tween dan span 80( 6 %) dalam 100 ml
    6/100 x 100 = 6 gram
    (x. 15) + (6-x).4.3 = 6 . 12
    15x + 25.8 – 4.3    = 72
    10.7x                     = 46.2
    x                           = 4.31 gram
    jadi : tween 80 = 4.31 gram
             span  80   = 6 – 4.31 = 1.68 gram
    7.   Tween dan span 80 (3 %) dalam 100 ml

    3/100 x 100 = 3 gram
    (x. 15) + (3.x).4.3 = 3 . 12
    15x + 12.9 – 4.3    = 36
    10.7x                     = 23.1
    x                           = 2.16 gram
    jadi : tween 80 = 2.16 gram
             span  80   = 3 – 2.16 = 0.84 gram

    B.     Penimbangan
    o   Parafin cair 30 %   = 30 gram
    o   PGA 10 %            = 10 gram
    o   CMC Na 0.5 %    = 0.5 gram
    o   Veegum 1 %          = 1 gram
    o   Tween 80 3%        = 2.16 gram
    o   Span 80 3%          = 0.84 gram
    o   Tween 80 6 %       = 4.31 gram
    o   Span 80 6%          = 1.68 gram        

         V.            Prosedur
    1.      Pembuatan emulsi (metode korpus basah)
    o   Di kembangkan emulgator alam dengan air
    o   Di campurkan dengan parafin cair, lalu di aduk kuat sampai terbentuk korpus emulsi (campuran minyak, air dan emulgator)
    o   Di tambahkan bahan tambahan (zat pengawet, penstabil, perasa dan lain-lain) yang dilarutkan dahulu dalam sedikit  fase luar lalu di campur dengan emulsi utama.
    o   Di masukan dalam tabung sedimentasi dan genapkan sampai volume 100 ml.

    2.      Pembuatan emulsi (metode korpus kering)
    o   Didihkan air yang akan di gunakan
    o   Di campurkan emulgator, air dan parafin cair tanpa mengmbangkan emulgator  terlebih dahulu
    o   Di tambahkan bahan tambahan (zat pengawet, penstabil, perasa dan lain-lain) kemudian di campur dengan emulsi utama dan sisa air sambil di aduk cepat sampai mencapai volume yang diinginkan pada tabung sedimentasi.

    3.      Pembuatan emulsi tanpa korpus
    o   Di campurkan parafin cair dan PGA sekaligus  tanpa di kembangkan terlebih dahulu
    o   Di tambahkan air 50 ml lalu di kocok dengan stirer selama 2 menit
    o   Di masukan ke dalam tabung sedimentasi.

    4.      Pembuatan emulsi dengan surfaktan
    o   Di campurkan parafin cair dan span 80 lalu di panaskan pada suhu 60-700C
    o   Di campurkan dengan tween 80 di tambah air dalam cawan
    o   Di campurkan ke dua campuran, di kocok dengan stirer
    o   Di masukan dalam tabung sedimentasi dan digenapkan sampai 100 ml

      VI.            Data Pengamatan
    formula
    Organ oleptik
    Voleme sedimentasi (ml)
    rasa
    bau
    warna
    10
    20
    30
    60
    120
    1hari
    3hari
    Emulsi (basah)
    Tidak berasa
    Tidak berbau
    putih susu
    -
    -
    0.07
    0.13
    -
    1.19
    0.4
    Emulsi (kering)
    Tidak berasa
    Tidak berbau
    Putih susu
    -
    -
    0.29
    0.29
    -
    1.07
    0.44
    Emulsi (surfaktan)
    Tidak berasa
    tengik
    Putih susu
    0.4
    0.49
    0.52
    0.56
    -
    1.7
    0.37

    VII.            Pembahasan
    Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairanya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa (pendispersi), sisitem ini di sebut emulsi minyak dalam air dan sebaliknya, jika air yang merupakan fase terdispersi dan minyak sebagai pembawa, sistem ini di sebut air dalam minyak.
                Seperti yang di ketahui bahwa emulsi merupakan sistem dua cairan yang tidak bercampur serta tidak stabil karena berbentuk globul-globul pada fase pendispersi atau pembawa, dengan demikian agar emulsi tetap stabil maka harus di tambahkan emulgator. Emulgator dapat bekerja dengan dua tahapan yaitu :

    1.      Tahap Disrupsi : emulgator bekerja dengan pemecahan minyak menjadi globul-globul yang kecil sebagai bahan terdispersi, sehingga lebih mudah terdispersi dalam fase pendispersi atau pembawa.
    2.      Tahap Stabilisasi : bekerja dengan menstabilkan globul-globul yang terbentuk dengan cairan pembawa sehingga emulsi yang terbentuk tidak terpisah menjadi fase tunggal.

    Salah satu emulgator yang sering di gunakan dalam dunia farmasi yaitu golongan surfaktan. Surfaktan memiliki mekanisme kerja dengan menurunkan tegangan permukaan atau antarmuka antara minyak dengan air seh ingga air dan minyak lebih mudah bercampurserta membentuk film monomolekuler pada permukaan fase terdispersi.

    Beberapa contoh ketidak stabilan emulsi antara lain :
    a.       Koalesen : campuran globul dalam jumlah yang banyak sehingga menjadi besar.
    b.      Flukulasi : globul- globul kecil yang memiliki ikatan yang tidak kuat sehingga tidak bercampur dengan sempurna.
    c.       Kreaming : pecahnya globul-globul kecil sehingga tidak bercampur dan terjadi dua fase.
    d.      Breaking : dimana minyak dan air tidak bercampur sama sekali dan membentuk dua fase secara langsung.
    Pada formulasi sediaan emulsi yang akan mempengaruhi sediaan farmasi yaitu di lihat dari bahan tambahan (exipient) seperti :

    o   Pengawet
    Pada penambahan pengawet memerlukan bahan tambahan antimikroba karena fase air merupakan tempat yang sangat mudah di tumbuhi mikroorganisme. Adanya pengawet sangat penting dalam emulsi minyak dalam air karena kontaminasi eksternal mudak terjadi.
    o   Anti oksidan
    Dalam sediaan emulsi berfungsi mencegah terjadinya reaksi osidasi.
    o   Pemanis
    Sediaan emulsi merupakan sediaan yang memiliki rasa yang kurang sedap karena terdiri dari minyak apalagi tipe emulsi air dalam minyak sehingga rasa minyak tidak tertutupi, maka dengan penambahan pemanis sangat di perlukan untuk menutupi rasa.
    o   pewarna


    VIII.            Usulan Formula
    1.      Parafini Emulsum ( Emulsi Parafin )
    Ø  Tiap 100 ml mengandung : ( Formularium Nasional edisi 2 thn 1978 hal 227 )
    -          Paraffinum Liquidum           50 ml
    -          Gummi Arabicum                12,5 gram
    -          Sirupus Simplex                  10 ml
    -          Vanillinum               4 mg
    -          Aethanolum 90 %   6 ml
    -          Aqua Destillata       ad        100 ml
    2.      Parafini Phenolphtalein Emulsi ( Emusi Parafin Fenolftalein )
    Ø  Tiap 100 ml mengandung : ( Formularium Nasional edisi 2 thn 1978 hal 228 )
    -          Phenolphtaleinum    300 mg
    -          Paraffinum Liquidum           50 ml
    -          Gummi Arabicum                12,5 gram
    -          Saccharrinum Natricum       5 mg
    -          Acidi Benzoici solutio          2,5 ml
    -          Vanillinum               50 mg
    Aqua Destillata             ad        100 m

      IX.            Kesimpulan
                 Simpulkan sendirinya ya.


         X.            Daftar Pustaka
    Farmakope Indonesia edisi III  tahun 1997. halaman 47
    Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995.  Halaman 175 dan 718

    Total Pageviews

    © 2016 Pharmacy. WP Theme-Taufiq converted by Dede Taufiq
    Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.