Pharmacy
close
Profil Hiduplah seolah engkau mati besok, Belajarlah seolah engkau hidup selamanya.

What's New Here?

Download Buku Formularium Nasional (Fornas)



Formularium Nasional (Fornas) adalah daftar obat yang disusun berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas. Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat, aman, dan dengan harga terjangkau yang disediakan serta digunakan sebagai acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, Fornas adalah bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Oleh karena itu, perlu disusun suatu daftar obat yang digunakan sebagai acuan nasional penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin aksesibilitas keterjangkauan dan penggunaan obat secara nasional dalam Formularium Nasional.
Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Binfar dan Alkes) Kemenkes RI, Maura Linda Sitanggang, Apt., Ph.D, pada acara temu media tentang Formularium Obat untuk JKN, di lingkungan Kemenkes (17/6).

Manfaat Fornas yaitu sebagai acuan penetapan penggunaan obat dalam JKN, serta meningkatkan penggunaan obat yang rasional, dapat juga mengendalikan mutu dan biaya pengobatan, serta mengoptimalkan pelayanan kepada pasien. Selain itu, Fornas juga dapat memudahkan perencanaan dan penyediaan obat, serta meningkatkan efisiensi anggaran pelayanan kesehatan, kata Dirjen Binfar dan Alkes.

Tujuan secara umum Formularium Nasional adalah sebagai acuan bagi fasilitas kesehatan dalam menjamin ketersediaan obat yang berkhasiat, bermutu, aman, dan terjangkau dalam sistem JKN, tambah Ibu Maura. 




Sekian dari saya mohon maaf bila ada kesalahan dan membuat kecewa pada link, terimakasih telah berkunjung, semoga bermanfaat setidaknya telah tahu tentang buku fornas, 

Download Buku Formularium Nasional (Fornas)

Download Buku Formularium Nasional (Fornas)



Formularium Nasional (Fornas) adalah daftar obat yang disusun berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas. Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat, aman, dan dengan harga terjangkau yang disediakan serta digunakan sebagai acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, Fornas adalah bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Oleh karena itu, perlu disusun suatu daftar obat yang digunakan sebagai acuan nasional penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin aksesibilitas keterjangkauan dan penggunaan obat secara nasional dalam Formularium Nasional.
Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Binfar dan Alkes) Kemenkes RI, Maura Linda Sitanggang, Apt., Ph.D, pada acara temu media tentang Formularium Obat untuk JKN, di lingkungan Kemenkes (17/6).

Manfaat Fornas yaitu sebagai acuan penetapan penggunaan obat dalam JKN, serta meningkatkan penggunaan obat yang rasional, dapat juga mengendalikan mutu dan biaya pengobatan, serta mengoptimalkan pelayanan kepada pasien. Selain itu, Fornas juga dapat memudahkan perencanaan dan penyediaan obat, serta meningkatkan efisiensi anggaran pelayanan kesehatan, kata Dirjen Binfar dan Alkes.

Tujuan secara umum Formularium Nasional adalah sebagai acuan bagi fasilitas kesehatan dalam menjamin ketersediaan obat yang berkhasiat, bermutu, aman, dan terjangkau dalam sistem JKN, tambah Ibu Maura. 




Sekian dari saya mohon maaf bila ada kesalahan dan membuat kecewa pada link, terimakasih telah berkunjung, semoga bermanfaat setidaknya telah tahu tentang buku fornas, 

Kromatografi untuk Analisis Obat


Judul : Kromatografi untuk Analisis Obat


Kromatografi merupakan teknik analisis yang digunakan secara luas untuk analisis senyawa obat, baik dalam sediaan farmasi atau dalam cairan biologis. Hal ini disebabkan karena kromatografi dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif. 
Buku ini,menguraikan tentang teknik-teknik kromatografi (kromatografi lapis tipis, kromatografi cair kinerja tinggi, dan kromatografi gas) serta beberapa contoh penggunaannya untuk analisis senyawa obat. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang penyiapan sampel yang harus dilakukan sebelum dilakukan analisis dengan kromatografi, serta validasi metode untuk pengembangan metode analisis. Materi pembahasan meliputi: Pengantar kromatografi Penyiapan sampel Kromatografi lapis tipis (KLT) Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) Kromatografi gas (KG) Validasi metode.

Download Buku Kromatografi untuk Analisis Obat

Kromatografi untuk Analisis Obat


Judul : Kromatografi untuk Analisis Obat


Kromatografi merupakan teknik analisis yang digunakan secara luas untuk analisis senyawa obat, baik dalam sediaan farmasi atau dalam cairan biologis. Hal ini disebabkan karena kromatografi dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif. 
Buku ini,menguraikan tentang teknik-teknik kromatografi (kromatografi lapis tipis, kromatografi cair kinerja tinggi, dan kromatografi gas) serta beberapa contoh penggunaannya untuk analisis senyawa obat. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang penyiapan sampel yang harus dilakukan sebelum dilakukan analisis dengan kromatografi, serta validasi metode untuk pengembangan metode analisis. Materi pembahasan meliputi: Pengantar kromatografi Penyiapan sampel Kromatografi lapis tipis (KLT) Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) Kromatografi gas (KG) Validasi metode.
Farmakope adalah buku resmi yang dikeluarkan oleh sebuah negara yang berisi standarisasi, panduan dan pengujian sediaan obat. Setiap negara menerbitkan dan mempunyai farmakope sendiri, karena setiap negara mempunyai karakteristik fisik manusia dan lingkungan yang berbeda-beda, sehingga jenis dan dosis obatnya berbeda-beda untuk suatu penyakit.
Image
United State Pharmakope (USP) adalah farmakope yang diterbitkan oleh Amerika Serikat, British Pharmakope (BP) diterbitkan oleh Inggris dan Nederlands Pharmakope diterbitkan oleh negara Belanda.
Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah Farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.
Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, yaitu:

DOWNLOAD Mohon Maaf Bila Ada Kesalahan Link :









Istilah Farmakope ( PHARMACOPOEIA ) berasal dari bahasa Yunani
Pharmacon = obat
Poien         = buat
Kombinasi kedua kata tersebut bermakna resep atau formula atau standar lain yang dikehendaki untuk membuat atau mempersiapkan / mengolah / meracik suatu obat, Kata ini pertama kali digunakan pada tahun 1580 dalam suatu buku lokal yang merupakan standar obat di Bergamo suatu daerah di Itali.
Farmakope merupakan buku resmi yang memuat uraian, persyaratan, keseragaman pengujian mutu dan pengolahan / peracikan obat, juga tentang alat-alat dan persyaratan alat yang digunakan untuk pengolahan / peracikan dan pengujian mutu obat serta cara-cara pengujian potensi obat.
Buku Farmakope diakui dan didukung secara resmi dalam lingkungan suatu negara atau regional (gabungan beberapa negara dalam satu wilayah ) atau lembaga / badan internasional serta berlaku dalam wilayah tersebut.
Glenn Sonnedecker , seorang sarjana farmasi dari Amerika Serikat mendefinisikan Farmakope sebagai berikut :
Farmakope adalah suatu kompendium yang sengaja untuk melindungi keseragaman dalam hal kualaitas, komposisi dan kekuatan terapi bahan-bahan melalui spesifikasi pengarang, metode dan instruksi yang dibuat dengan suatu batasan daerah oleh kekuasaan yang sah .

Download Farmakope Indonesia Edisi III 1979

Farmakope adalah buku resmi yang dikeluarkan oleh sebuah negara yang berisi standarisasi, panduan dan pengujian sediaan obat. Setiap negara menerbitkan dan mempunyai farmakope sendiri, karena setiap negara mempunyai karakteristik fisik manusia dan lingkungan yang berbeda-beda, sehingga jenis dan dosis obatnya berbeda-beda untuk suatu penyakit.
Image
United State Pharmakope (USP) adalah farmakope yang diterbitkan oleh Amerika Serikat, British Pharmakope (BP) diterbitkan oleh Inggris dan Nederlands Pharmakope diterbitkan oleh negara Belanda.
Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah Farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.
Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, yaitu:

DOWNLOAD Mohon Maaf Bila Ada Kesalahan Link :









Istilah Farmakope ( PHARMACOPOEIA ) berasal dari bahasa Yunani
Pharmacon = obat
Poien         = buat
Kombinasi kedua kata tersebut bermakna resep atau formula atau standar lain yang dikehendaki untuk membuat atau mempersiapkan / mengolah / meracik suatu obat, Kata ini pertama kali digunakan pada tahun 1580 dalam suatu buku lokal yang merupakan standar obat di Bergamo suatu daerah di Itali.
Farmakope merupakan buku resmi yang memuat uraian, persyaratan, keseragaman pengujian mutu dan pengolahan / peracikan obat, juga tentang alat-alat dan persyaratan alat yang digunakan untuk pengolahan / peracikan dan pengujian mutu obat serta cara-cara pengujian potensi obat.
Buku Farmakope diakui dan didukung secara resmi dalam lingkungan suatu negara atau regional (gabungan beberapa negara dalam satu wilayah ) atau lembaga / badan internasional serta berlaku dalam wilayah tersebut.
Glenn Sonnedecker , seorang sarjana farmasi dari Amerika Serikat mendefinisikan Farmakope sebagai berikut :
Farmakope adalah suatu kompendium yang sengaja untuk melindungi keseragaman dalam hal kualaitas, komposisi dan kekuatan terapi bahan-bahan melalui spesifikasi pengarang, metode dan instruksi yang dibuat dengan suatu batasan daerah oleh kekuasaan yang sah .
Assalamualaikum Wr. Wb.
         Salam farmasi, seorang farmasi pasti tahu apa analgesik,,,,. Singkatnya analgesik adalah kumpulan obat yang berfungsi untuk anti nyeri, pereda nyeri. Berikut saya bagikan buku mengenai analgesik.


Download Buku Analgesik (anti nyeri)

Acetaminophen: Properties, Clinical Uses and Adverse Effects.DOWNLOAD
Adjuvant Analgesics. David Lussier 2015 DOWNLOAD
Ibuprofen; Clinical Pharmacology, Medical Uses and Adverse EffectsDOWNLOAD
Meyler's Side Effects of Analgesics and Anti-inflammatory DrugsDOWNLOAD
Systemic Corticosteroids for Inflammatory Disorders in Pediatrics. Rolando Cimaz 2015 DOWNLOAD

Silahkan download, jika tidak bisa kembali lagi dan klik lagi

Sekian semoga dapat bermanfaat, selamat membaca..

Baca Juga :
  1. Artikel Sediaan Serbuk (pulvis dan pulveres) Lengkap
  2. Pengenceran Obat Dalam Meracik
  3. Sediaan Kapsul Lengkap
  4. Sediaan Krim (Cream) Lengkap
By: Dede Taufiq S.farm 

Download Kumpulan Buku Analgesik ( anti nyeri )

Assalamualaikum Wr. Wb.
         Salam farmasi, seorang farmasi pasti tahu apa analgesik,,,,. Singkatnya analgesik adalah kumpulan obat yang berfungsi untuk anti nyeri, pereda nyeri. Berikut saya bagikan buku mengenai analgesik.


Download Buku Analgesik (anti nyeri)

Acetaminophen: Properties, Clinical Uses and Adverse Effects.DOWNLOAD
Adjuvant Analgesics. David Lussier 2015 DOWNLOAD
Ibuprofen; Clinical Pharmacology, Medical Uses and Adverse EffectsDOWNLOAD
Meyler's Side Effects of Analgesics and Anti-inflammatory DrugsDOWNLOAD
Systemic Corticosteroids for Inflammatory Disorders in Pediatrics. Rolando Cimaz 2015 DOWNLOAD

Silahkan download, jika tidak bisa kembali lagi dan klik lagi

Sekian semoga dapat bermanfaat, selamat membaca..

Baca Juga :
  1. Artikel Sediaan Serbuk (pulvis dan pulveres) Lengkap
  2. Pengenceran Obat Dalam Meracik
  3. Sediaan Kapsul Lengkap
  4. Sediaan Krim (Cream) Lengkap
By: Dede Taufiq S.farm 
  ANALISIS POTENSIAL ANTIBIOTIK
INTISARI
LatarBelakang : Dalam kehidupan sehari-hari telah sering kita mendengar kata antibiotika yang biasanya digunakan sebagai obat infeksi mikroorganisme di kalangan masyarakat umum. Akan tetapi pemakaian antibiotika harus diperhatikan karena obat ini dapat tmenyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme dalam tubuh sehingga dapat membahayakan bagi pasien. Prinsip untuk penetapan potensipada antibiotika adalah dengan dibandingkannya kemampuan suatu antibiotika dengan antibiotika baku dalam menghambat pertumbuhan mikroba uji. Kita kenali bahwa antibiotika baku merupakan antibiotika yang telah diketahui kadar dan aktivitasnya, dibandingkan dengan antibiotika baku internasional.Uji potensi antibiotika secara mikrobiologik dapat didefinisikan sebagai suatu teknik untuk menetapkan potensi antibiotika dengan cara mengukur efek senyawa tersebut terhadap pertumbuhan mikroorganisme uji yang peka dan sesuai. Efek yang ditimbulkan pada senyawa uji dapat berupa hambatan pertumbuhan (zona hambat). 
TujuanPenelitian : Adapun tujuan analisis potensial antibiotik ini adalah untuk melihat potensi antibiotic dari Colsansetine® terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar.
Metode : Pengujian ini dilakukan dengan metode difusi agar dengan rancangan 5+1 dimana digunakan 5 larutan pembanding yang memiliki tingkat dosis yang berbeda-beda dengan dosis tengah sebagai dosis acuan dan 1 larutan contoh atau sampel antibiotik dengan satu tingkat dosis.
Hasil : Dengan cara mengukur zona hambat diperoleh hasil bahwa korektor S1, S2, S4, S5 dan U3 berturut-turut sebesar 14.610 nm, 12,777 mm, 11,055 mm, 13,722 nm, dan 10,499 nm. Sehingga didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0,38%. Hal ini tidak sesuai dengan potensi sampel yang ada di FI IV yaitu sebesar 95% - 105%.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Colsansetine® memiliki daya hambat yang kurang karena potensi uji yang dihasilkan sebesar 0,38%. Hal ini tidak sesuai dengan potensi sampel yang ada di FI IV yaitu sebesar 95% - 105%.
Kata Kunci : Antibiotika, Eschericia coli, Colsansetine®, potensi antibiotik.






PENDAHULUAN
Adanya metode sintetik, bagaimanapun dihasilkan pada modifikasi dari definisi ini dan antibiotik saat ini megarah pada bahan yang diproduksi oleh mikroorganisme, atau bahan yang sama (yang diproduksi keseluruhan atau sebagian oleh sintetis kimia), yang dimana ada konsentrasi yang rendah menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Antibiotik secara umum didefinisikan sebagai bahan yang diproduksi oleh mikroorganisme yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. 4.Prinsip penetapan potensi antibiotik dalam sediaan obat adalah membandingkan dosis larutan sediaan uji terhadap dosis larutan baku pembanding yang menghasilkan derajat hambatan yang sama pada mikroorganisme uji3.
Terdapat 2 cara yang umum digunakan dalam uji potensi secara mikrobiologi yaitu2: (1)Metode lempeng silinder. Prinsip metode ini adalah membandingkan zona hambatan pertumbuhan mikroorganisme uji oleh dosis senyawa antibiotik yang diuji terhadap zona hambatan oleh dosis antibiotik baku pembanding pada media lempeng agar.(2)Metode turbidimetri. Prinsip metode ini adalah berdasarkan hambatan pertumbuhan biakan mikroorganisme dalam media cair yang mengandung larutan antibiotik. Pada metode ini, mikroorganisme uji yang sesuai diinokulasikan kedalam media cair yang mengandung antibiotik didalam tabung.
Metoda difusi agar adalah suatu prosedur yang bergantung pada difusi senyawa antimikrobial ke dalam agar. Senyawa antimikrobial tersebut diserapkan pada kertas cakram yang berdiameter 6 mm. Kertas cakram ditempatkan pada permukaan media yang telah diinokulasikan dengan bakteri patogen atau jamur yang akan diuji. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada temperatur 37oC, diamati diameter daerah hambatan di sekitar kertas cakram. Daerah hambatan yang terbentuk sebagai daerah bening disekitar kertas cakram menunjukkan mikroorganisme yang diuji telah dihambat oleh senyawa yang berdifusi ke dalam kertas cakram5.
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang menguntungkan bagi manusia. Antibiotik ini dihasilkan oleh jamur Streptomyces venezuela dan salah satu antibiotik yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit tifus perut atau tifus abdomenalis. Kloramfenikol juga bisa digunakan untukk mengobati penyakit infeksi seperti batuk rejan, koler, serta penyakit-penyakit yang digolongkan sebagai penyakit berat6.
METODE PRAKTIKUM
Jenis dan Rancangan Praktikum :
Jenis praktikum ini adalah experimental dengan rancangan praktikum One-Shot Study.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan dan alat yang digunakan yaitu autoklaf, cawan petri, erlenmeyer, inkubator (Memmert®), kapas, lampu spiritus, mistar, NA (Nutrient Agar) (no. reg: 1.05450.0500 Merck KG A, 64271 Darmstadt), ose bulat,  paper disk, pinset, plastik  wrap,   spidol, spoit, suspensi bakteri Eschericia coli, vial, dan tissue.
Sampel Praktikum
            Sampel yang digunakan pada praktikum ini  adalah antibiotic kloramfenikol merek Colsansetine®.
Cara kerja
Pengujian Potensi Antibiotik
Dimasukkan satu ose suspensi bakteri Eschericia coli ke dalam vial yang berisi medium NA 10 ml. Kemudian dihomogenkan lalu dituang ke dalam cawan petri yang telah dipatron enam. Setelah medium memadat, diletakkan 3 paper disk dengan dosis tengah baku (S3) dan 3 paper disk dari tiap pengenceran S1, S2, S3, S4 larutan baku yang mana diisi secara selang seling. Sedangkan untuk sediaan uji dosis, 3 paper disk dengan dosis tengah baku (S3) dan 3 paper disk dengan pengenceran larutan uji obat antibiotic Colsansetine® (U3). Kemudian diinkubasi 1x24 jam pada suhu 37oC. Diamati zona hambatan yang terbentuk dan diukur zona hambatan yang terbentuk, lalu dihitung hasil pengukurannya.         
Analisis Hasil
Pada percobaan ini parameter yang dianalisis yaitu dilakukan pengujian terhadap obat antibiotic Colsansetine® yang digunakan untuk melihat potensi antibioticnya terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar.
HASIL PRAKTIKUM
  
zona hambat

   
 Gambar 1. zona hambat S1 dan S3

zona hambat 1
  

Gambar 2. zona hambat S2 dan S3
  
Zona hambat
  
 Gambar 3. zona hambat S4 dan S3
  
Zona AHmbat
  
Gambar 4. zona hambat S5 dan S3

  
Zona ha,bat
  
Gambar 5. zona hambat U3 dan S3
  
  
Tabel 1. Hasil Pengamatan Zona  Hambat  Sediaan  Obat Antibiotik Consalcentine® Terhadap Bakteri Uji Eschericia coli.
No.
Parameter Zona Hambatan (mm)
Baku Pembanding
Sampel Uji
S1
S3
S2
S3
S4
S3
S5
S3
U3
S3
1
10
16
9
21
10
15
13
16
9
15
2
12
16
10
26
11
13
13
17
9
14
3
10
16
9
19
10
14
13
16
9
14
4
12
19
9
11
9
10
14
12
11
10
5
12
19
10
12
10
11
14
12
11
11
6
12
19
9
11
9
12
14
12
11
11
7
15
16
10
14
9
12
13
14
8
11
8
13
16
11
15
9
13
13
14
8
9
9
15
15
10
14
10
12
13
14
8
10
Jumlah
111
152
87
143
87
112
120
127
84
105
Rata-rata
12.333
16.888
9.666
15.888
9.666
12.444
13.333
14.111
9.333
11.666
Korektor
2.277
-
3.111
-
1.389
-
0.389
-
1.166
-
Hasil Korektor
14.610
12.777
11.055
13.722
10.499

Tabel 2. Pembuatan Kurva Baku
Larutanbaku
Log s =  x
Diameter zona hambatan = y
X2
Y2
XY
Dosis S1 = 1,6
0.204
14.610
0.0416
213.452
2.980
Dosis S2 = 2
0.301
12.777
0.0906
163.251
3.845
Dosis S3 = 2,5
0.39
14.221
0.1521
202.236
5.546
Dosis S4 = 3,125
0.494
11.055
0.244
122.102
5.461
Dosis S5 =3,9
0.591
13.722
0.3492
188.293
8.109
  
PEMBAHASAN
Perlu kita ketahui bahwa antibiotik merupakan bahan atau senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan dari mikroorganis melainnya. Pada percobaan kali ini dipilih antibiotik turunankloramfenikol (colsansentin®) karena kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang dapat membunuh bakteri gram negatif maupun gram positif.
Percobaan ini ditujukan untukmelihat potensi antibiotikdari Colsansetine® terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan dari pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar (NA).
Dalam hal ini pengujian potensi antibiotika dilakukan dengan metode difusi agar dengan rancangan 5+1 dimana digunakan 5 larutan pembanding yang memiliki tingkat dosis yang berbeda-beda dan 1 larutan contoh atau sampel antibiotik dengan satu tingkatan dosis, namun pada praktikum yang dilakukan dalam tiap cawan petri hanya satu contoh (Colsansetine®) dan baku pembanding dengan tingkat dosis menengah saja (dosis acuan). Digunakan sampel obat antibiotic Colsansetine® dengan melihat daya hambat sediaan uji terhadap mikroba uji yaitu Eschericia coli. Daya hambatnya dapat dilihat berupa zona hambatan yang berwarna bening disekitar papper disk pada medium NA di dalam cawan petri yang telah diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37o C, yang kemudian zona hambat diukur diameternya dengan menggunakan mistar.
Terbentuk zona bening karena pada daerah tersebut tidak ada mikroorganisme yang tumbuh atau pertumbuhannya telah dihambat. Zona yang terbentuk inilah yang akan digunakan sebagai dasar kuantitatif agar dapatmengukurpotensi antibiotik baku. Pengukuran diameter zona hambatnya dilakukan sebanyak 3 kali karena zona yang terbentuk tidak berupa lingkaran yang sempurna.
Hasil dari uji potensi antibiotik kloramfenikol menunjukkan diameter zona hambatan  untuk S1dan S3 14.610 nm , S2 dan S3 12,777 mm, S4 dan S3 11,055 mm, S5 dan S3 13,722  mm, serta U3 dan S3 10,499 mm. Dari perhitungan persamaan regresi kurva baku, didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0.38%.
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat dismpulkan bahwa sediaan obat antibiotik dari Kloramfenikol yaitu Colsansetine® efektif sebagai antibiotic berdasarkan terbentuknya zona hambat. Serta dari perhitungan persamaan regresi kurva baku, didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0.38% dan enurut FI IV potensi sampel antibiotik untuk kloramfenikol sebesar 95%-105%, hal ini menunjukkan bahwa antibiotik pada colsansetine® memiliki daya hambat kurang dibandingkan larutan baku.
SARAN
Sebaiknya kelompok yang bertugas pada praktikum ini alat yang akan digunakan disiapkan semua agar tidak mengganggu proses berjalannnya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
1.        Anonim,2015,PenuntunPraktikumAnalisisMikrobiologi,LaboratoriumMikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia,Makassar.
2.        Djide M.N.,2008,Dasar-dasar Mikrobiologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.        Harti, A.S., 2015, MikrobiologiKesehatan, CV Andi Offset,Yogyakarta.
4.        Hugo, 2004,Pharmaceutical Microbiology seventh edition, Blackwell science: UK.
5.        Katzung B., Susan B., Anthony T., 2013,Farmakologi Dasar dan Klinik, Jakarta, EGC.
6.        Pelczar, M.E.C.S., Chan, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

DATA TAMBAHAN



  1. Laporan Penentuan Spektrum Kerja Antibiotik Lengkap Docx
  2. Laporan Pengamatan Gerak Bakteri Lengkap Docx
  3. Laporan Pewarnaan Gram Pada Mikroba Lengkap Docx
  4. MAKALAH Bioteknologi Konvensional Mentega
Reading “Kadangkala seseorang memutuskan untuk menjauh bukan karena ia membencinya, tapi karena ia sedang melindungi dirinya dari luka.”

Laporan Analisis Potensial Antibiotik Mikrobiologi

  ANALISIS POTENSIAL ANTIBIOTIK
INTISARI
LatarBelakang : Dalam kehidupan sehari-hari telah sering kita mendengar kata antibiotika yang biasanya digunakan sebagai obat infeksi mikroorganisme di kalangan masyarakat umum. Akan tetapi pemakaian antibiotika harus diperhatikan karena obat ini dapat tmenyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme dalam tubuh sehingga dapat membahayakan bagi pasien. Prinsip untuk penetapan potensipada antibiotika adalah dengan dibandingkannya kemampuan suatu antibiotika dengan antibiotika baku dalam menghambat pertumbuhan mikroba uji. Kita kenali bahwa antibiotika baku merupakan antibiotika yang telah diketahui kadar dan aktivitasnya, dibandingkan dengan antibiotika baku internasional.Uji potensi antibiotika secara mikrobiologik dapat didefinisikan sebagai suatu teknik untuk menetapkan potensi antibiotika dengan cara mengukur efek senyawa tersebut terhadap pertumbuhan mikroorganisme uji yang peka dan sesuai. Efek yang ditimbulkan pada senyawa uji dapat berupa hambatan pertumbuhan (zona hambat). 
TujuanPenelitian : Adapun tujuan analisis potensial antibiotik ini adalah untuk melihat potensi antibiotic dari Colsansetine® terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar.
Metode : Pengujian ini dilakukan dengan metode difusi agar dengan rancangan 5+1 dimana digunakan 5 larutan pembanding yang memiliki tingkat dosis yang berbeda-beda dengan dosis tengah sebagai dosis acuan dan 1 larutan contoh atau sampel antibiotik dengan satu tingkat dosis.
Hasil : Dengan cara mengukur zona hambat diperoleh hasil bahwa korektor S1, S2, S4, S5 dan U3 berturut-turut sebesar 14.610 nm, 12,777 mm, 11,055 mm, 13,722 nm, dan 10,499 nm. Sehingga didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0,38%. Hal ini tidak sesuai dengan potensi sampel yang ada di FI IV yaitu sebesar 95% - 105%.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Colsansetine® memiliki daya hambat yang kurang karena potensi uji yang dihasilkan sebesar 0,38%. Hal ini tidak sesuai dengan potensi sampel yang ada di FI IV yaitu sebesar 95% - 105%.
Kata Kunci : Antibiotika, Eschericia coli, Colsansetine®, potensi antibiotik.






PENDAHULUAN
Adanya metode sintetik, bagaimanapun dihasilkan pada modifikasi dari definisi ini dan antibiotik saat ini megarah pada bahan yang diproduksi oleh mikroorganisme, atau bahan yang sama (yang diproduksi keseluruhan atau sebagian oleh sintetis kimia), yang dimana ada konsentrasi yang rendah menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Antibiotik secara umum didefinisikan sebagai bahan yang diproduksi oleh mikroorganisme yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. 4.Prinsip penetapan potensi antibiotik dalam sediaan obat adalah membandingkan dosis larutan sediaan uji terhadap dosis larutan baku pembanding yang menghasilkan derajat hambatan yang sama pada mikroorganisme uji3.
Terdapat 2 cara yang umum digunakan dalam uji potensi secara mikrobiologi yaitu2: (1)Metode lempeng silinder. Prinsip metode ini adalah membandingkan zona hambatan pertumbuhan mikroorganisme uji oleh dosis senyawa antibiotik yang diuji terhadap zona hambatan oleh dosis antibiotik baku pembanding pada media lempeng agar.(2)Metode turbidimetri. Prinsip metode ini adalah berdasarkan hambatan pertumbuhan biakan mikroorganisme dalam media cair yang mengandung larutan antibiotik. Pada metode ini, mikroorganisme uji yang sesuai diinokulasikan kedalam media cair yang mengandung antibiotik didalam tabung.
Metoda difusi agar adalah suatu prosedur yang bergantung pada difusi senyawa antimikrobial ke dalam agar. Senyawa antimikrobial tersebut diserapkan pada kertas cakram yang berdiameter 6 mm. Kertas cakram ditempatkan pada permukaan media yang telah diinokulasikan dengan bakteri patogen atau jamur yang akan diuji. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada temperatur 37oC, diamati diameter daerah hambatan di sekitar kertas cakram. Daerah hambatan yang terbentuk sebagai daerah bening disekitar kertas cakram menunjukkan mikroorganisme yang diuji telah dihambat oleh senyawa yang berdifusi ke dalam kertas cakram5.
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang menguntungkan bagi manusia. Antibiotik ini dihasilkan oleh jamur Streptomyces venezuela dan salah satu antibiotik yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit tifus perut atau tifus abdomenalis. Kloramfenikol juga bisa digunakan untukk mengobati penyakit infeksi seperti batuk rejan, koler, serta penyakit-penyakit yang digolongkan sebagai penyakit berat6.
METODE PRAKTIKUM
Jenis dan Rancangan Praktikum :
Jenis praktikum ini adalah experimental dengan rancangan praktikum One-Shot Study.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan dan alat yang digunakan yaitu autoklaf, cawan petri, erlenmeyer, inkubator (Memmert®), kapas, lampu spiritus, mistar, NA (Nutrient Agar) (no. reg: 1.05450.0500 Merck KG A, 64271 Darmstadt), ose bulat,  paper disk, pinset, plastik  wrap,   spidol, spoit, suspensi bakteri Eschericia coli, vial, dan tissue.
Sampel Praktikum
            Sampel yang digunakan pada praktikum ini  adalah antibiotic kloramfenikol merek Colsansetine®.
Cara kerja
Pengujian Potensi Antibiotik
Dimasukkan satu ose suspensi bakteri Eschericia coli ke dalam vial yang berisi medium NA 10 ml. Kemudian dihomogenkan lalu dituang ke dalam cawan petri yang telah dipatron enam. Setelah medium memadat, diletakkan 3 paper disk dengan dosis tengah baku (S3) dan 3 paper disk dari tiap pengenceran S1, S2, S3, S4 larutan baku yang mana diisi secara selang seling. Sedangkan untuk sediaan uji dosis, 3 paper disk dengan dosis tengah baku (S3) dan 3 paper disk dengan pengenceran larutan uji obat antibiotic Colsansetine® (U3). Kemudian diinkubasi 1x24 jam pada suhu 37oC. Diamati zona hambatan yang terbentuk dan diukur zona hambatan yang terbentuk, lalu dihitung hasil pengukurannya.         
Analisis Hasil
Pada percobaan ini parameter yang dianalisis yaitu dilakukan pengujian terhadap obat antibiotic Colsansetine® yang digunakan untuk melihat potensi antibioticnya terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar.
HASIL PRAKTIKUM
  
zona hambat

   
 Gambar 1. zona hambat S1 dan S3

zona hambat 1
  

Gambar 2. zona hambat S2 dan S3
  
Zona hambat
  
 Gambar 3. zona hambat S4 dan S3
  
Zona AHmbat
  
Gambar 4. zona hambat S5 dan S3

  
Zona ha,bat
  
Gambar 5. zona hambat U3 dan S3
  
  
Tabel 1. Hasil Pengamatan Zona  Hambat  Sediaan  Obat Antibiotik Consalcentine® Terhadap Bakteri Uji Eschericia coli.
No.
Parameter Zona Hambatan (mm)
Baku Pembanding
Sampel Uji
S1
S3
S2
S3
S4
S3
S5
S3
U3
S3
1
10
16
9
21
10
15
13
16
9
15
2
12
16
10
26
11
13
13
17
9
14
3
10
16
9
19
10
14
13
16
9
14
4
12
19
9
11
9
10
14
12
11
10
5
12
19
10
12
10
11
14
12
11
11
6
12
19
9
11
9
12
14
12
11
11
7
15
16
10
14
9
12
13
14
8
11
8
13
16
11
15
9
13
13
14
8
9
9
15
15
10
14
10
12
13
14
8
10
Jumlah
111
152
87
143
87
112
120
127
84
105
Rata-rata
12.333
16.888
9.666
15.888
9.666
12.444
13.333
14.111
9.333
11.666
Korektor
2.277
-
3.111
-
1.389
-
0.389
-
1.166
-
Hasil Korektor
14.610
12.777
11.055
13.722
10.499

Tabel 2. Pembuatan Kurva Baku
Larutanbaku
Log s =  x
Diameter zona hambatan = y
X2
Y2
XY
Dosis S1 = 1,6
0.204
14.610
0.0416
213.452
2.980
Dosis S2 = 2
0.301
12.777
0.0906
163.251
3.845
Dosis S3 = 2,5
0.39
14.221
0.1521
202.236
5.546
Dosis S4 = 3,125
0.494
11.055
0.244
122.102
5.461
Dosis S5 =3,9
0.591
13.722
0.3492
188.293
8.109
  
PEMBAHASAN
Perlu kita ketahui bahwa antibiotik merupakan bahan atau senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan dari mikroorganis melainnya. Pada percobaan kali ini dipilih antibiotik turunankloramfenikol (colsansentin®) karena kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang dapat membunuh bakteri gram negatif maupun gram positif.
Percobaan ini ditujukan untukmelihat potensi antibiotikdari Colsansetine® terhadap bakteri uji Eschericia coli, berdasarkan dari pembentukan zona hambatan pada medium Nutrien Agar (NA).
Dalam hal ini pengujian potensi antibiotika dilakukan dengan metode difusi agar dengan rancangan 5+1 dimana digunakan 5 larutan pembanding yang memiliki tingkat dosis yang berbeda-beda dan 1 larutan contoh atau sampel antibiotik dengan satu tingkatan dosis, namun pada praktikum yang dilakukan dalam tiap cawan petri hanya satu contoh (Colsansetine®) dan baku pembanding dengan tingkat dosis menengah saja (dosis acuan). Digunakan sampel obat antibiotic Colsansetine® dengan melihat daya hambat sediaan uji terhadap mikroba uji yaitu Eschericia coli. Daya hambatnya dapat dilihat berupa zona hambatan yang berwarna bening disekitar papper disk pada medium NA di dalam cawan petri yang telah diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37o C, yang kemudian zona hambat diukur diameternya dengan menggunakan mistar.
Terbentuk zona bening karena pada daerah tersebut tidak ada mikroorganisme yang tumbuh atau pertumbuhannya telah dihambat. Zona yang terbentuk inilah yang akan digunakan sebagai dasar kuantitatif agar dapatmengukurpotensi antibiotik baku. Pengukuran diameter zona hambatnya dilakukan sebanyak 3 kali karena zona yang terbentuk tidak berupa lingkaran yang sempurna.
Hasil dari uji potensi antibiotik kloramfenikol menunjukkan diameter zona hambatan  untuk S1dan S3 14.610 nm , S2 dan S3 12,777 mm, S4 dan S3 11,055 mm, S5 dan S3 13,722  mm, serta U3 dan S3 10,499 mm. Dari perhitungan persamaan regresi kurva baku, didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0.38%.
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat dismpulkan bahwa sediaan obat antibiotik dari Kloramfenikol yaitu Colsansetine® efektif sebagai antibiotic berdasarkan terbentuknya zona hambat. Serta dari perhitungan persamaan regresi kurva baku, didapatkan dosis larutan uji sebesar 0,030 dan potensi uji sebesar 0.38% dan enurut FI IV potensi sampel antibiotik untuk kloramfenikol sebesar 95%-105%, hal ini menunjukkan bahwa antibiotik pada colsansetine® memiliki daya hambat kurang dibandingkan larutan baku.
SARAN
Sebaiknya kelompok yang bertugas pada praktikum ini alat yang akan digunakan disiapkan semua agar tidak mengganggu proses berjalannnya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
1.        Anonim,2015,PenuntunPraktikumAnalisisMikrobiologi,LaboratoriumMikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia,Makassar.
2.        Djide M.N.,2008,Dasar-dasar Mikrobiologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.        Harti, A.S., 2015, MikrobiologiKesehatan, CV Andi Offset,Yogyakarta.
4.        Hugo, 2004,Pharmaceutical Microbiology seventh edition, Blackwell science: UK.
5.        Katzung B., Susan B., Anthony T., 2013,Farmakologi Dasar dan Klinik, Jakarta, EGC.
6.        Pelczar, M.E.C.S., Chan, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

DATA TAMBAHAN



  1. Laporan Penentuan Spektrum Kerja Antibiotik Lengkap Docx
  2. Laporan Pengamatan Gerak Bakteri Lengkap Docx
  3. Laporan Pewarnaan Gram Pada Mikroba Lengkap Docx
  4. MAKALAH Bioteknologi Konvensional Mentega
Reading “Kadangkala seseorang memutuskan untuk menjauh bukan karena ia membencinya, tapi karena ia sedang melindungi dirinya dari luka.”
© 2016 Pharmacy. WP Theme-Taufiq converted by Dede Taufiq
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.