Pharmacy

    What's New Here?

    Mekanisme Cara Kerja Obat Analgetik

    A. Analgetik
    Obat analgesik merupakan obat yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat di seluruh dunia. Banyaknya penggunaan analgetik juga tidak lain sebagai akibat dari tingginya jumlah penderita nyeri yang mana rasa nyeri dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Oleh karena itu penghilang rasa nyeri menjadi sangat populer.

    Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan, melindungi dan memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha bebas darinya. Salah satu contoh nyeri yaitu nyeri kepala sebelah.

    Obat analgesik dibedakan menjadi 2 macam, yaitu analgetik opioid dan analgesik non-narkotik. Analgetik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium yang berasal dari getah Papaverum somniferumyang mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya, morfin, codein, tebain, dan papaverin. Sering terjadi penyalahgunaan analgesik opioid karena adanya efek euforia dan ketagihan sehingga penggunaannya pun dibatasi.

    Obat nyeri atau obat antiinflamasi non steroid jika digunakan dalam jangka panjang dapat merugikan kesehatan, dari efek samping seperti sakit kepala, mual, muntah sampai kerusakan hati dan ginjal (Syamsul, et al. 2016).


    B. Proses Nyeri

    Nyeri adalah keadaan yang subjektif dimana seseorang memperlihatkan tidak nyaman secara verbal maupun nonverbal atau keduanya. Dapat akut atau kronis. Pengalaman nyeri terdiri dari 2 komponen : persepsi dan reaksi. Reaksi nyeri adalah apa yang dirasakan, dipikirkan seseorang dan hal-hal yang dirasakan nyeri. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi dan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan (Engram, 1994).

    Rasa sakit atau nyeri merupakan pertanda ada bagian tubuh yang bermasalah, yang merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi serta memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh seperti peradangan (rematik,encok), infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri timbul karena adanya rangsangan mekanis ataupun kimiawi, yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator (perantara) nyeri seperti bradikinin, histamin, serotonin, dan prostaglandin (Afrianti, et al. 2014).

    Rasa nyeri disebabkan rangsangan mekanis (benturan dengan benda tumpul) atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri. Sedangkan rasa nyeri pada gigi dapat disebabkan adanya infeksi atau peradangan. Kejang atau ketegangan otot dapat menimbulkan nyeri kepala. Mediator nyeri merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke susunan saraf pusat, melalui sumsum tulang belakang ke talamus kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai.

    2.      Reseptor nyeri
    Reseptor nyeri di dalam kulit dan jaringan lainnya merupakan ujung saraf bebas. Reseptor ini tersebar luas pada permukaan superfisial kulit dan juga di jaringan-jaringan dalam tertentu. Reseptor lainnya yang sensitif terhadap suhu panas atau dingin yang ekstrem disebut reseptor nyeri termosensitif yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut C yang tak bermielin. Reseptor ini mempunyai respon terhadap suhu dari 30oC-45oC dan pada suhu diatas 45oC, mulai terjadi kerusakan jaringan dan sensasinya berubah menjadi nyeri (Puspitasari, et al. 2003).

    3.      Proses merasakan nyeri
    Terdapat tiga jenis sel saraf yang berperan atau berpartisipasi dalam proses penghantaran nyeri yaitu :
    ·         sel syaraf aferen (neuron sensori)
    ·         serabut konektor (interneuron)
    ·         sel saraf eferen (neuron motoric)

    Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor ini khusus dan memulai impuls yang merespon stimulus nyeri  yang disebabkan oleh perubahan fisik dan kimia tubuh (reseptor yang berespon ini disebut “nosiseptor”). Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di system saraf pusat. Mediator nyeri mengakibatkan reaksi radang dan kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan dari neuron melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus, impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri. Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak.
    C. Cara Kerja Obat Anlgetik
    Mekanisme kerja obat analgetik merupakan sebuah mekanisme fisiologis tubuh terhadap zat-zat tertentu. Obat analgetik bekerja di dua tempat utama, yaitu di perifer dan sentral. Golongan obat AINS bekerja diperifer dengan cara menghambat pelepasan mediator sehingga aktifitas enzim siklooksigenase terhambat dan sintesa prostaglandin tidak terjadi. Sedangkan analgetik opioid bekerja di sentral dengan cara menempati reseptor di kornu dorsalis medulla spinalis sehingga terjadi penghambatan pelepasan transmitter dan perangsangan ke saraf spinal tidak terjadi.
    Prostaglandin merupakan hasil bentukan dari asam arakhidonat yang mengalami metabolisme melalui siklooksigenase. Prostaglandin yang lepas ini akan menimbulkan gangguan dan berperan dalam proses inflamasi, edema, rasa nyeri lokal dan kemerahan (eritema lokal). Selain itu juga prostaglandin . meningkatkan kepekaan ujung-ujung saraf terhadap suatu rangsangan nyeri (nosiseptif).
    Enzim siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Obat AINS memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin, dimana hal ini menghasilkan kedua efek yakni baik yang positif (analgesia, antiinflamasi) maupun yang negatif (ulkus lambung, penurunan perfusi renal dan perdarahan). Aktifitas COX dihubungkan dengan dua isoenzim, yaitu ubiquitously dan constitutive yang diekspresikan sebagai COX-1 dan yang diinduksikan inflamasi COX-2. COX-1 terutama terdapat pada mukosa lambung, parenkim ginjal dan platelet. Enzim ini penting dalam proses homeostatik seperti agregasi platelet, keutuhan mukosa gastrointestinal dan fungsi ginjal. Sebaliknya, COX-2 bersifat inducible dan diekspresikan terutama pada tempat trauma (otak dan ginjal) dan menimbulkan inflamasi, demam, nyeri dan kardiogenesis. Regulasi COX-2 yang transien di medulla spinalis dalam merespon inflamasi pembedahan mungkin penting dalam sensitisasi sentral.

    Sekian Mohon maaf bila ada kesalahan, Terimakasih telah berkunjung, Don't Forget Coment!!!

    Mekanisme Cara Kerja Obat Analgetik Lengkap

    Mekanisme Cara Kerja Obat Analgetik

    A. Analgetik
    Obat analgesik merupakan obat yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat di seluruh dunia. Banyaknya penggunaan analgetik juga tidak lain sebagai akibat dari tingginya jumlah penderita nyeri yang mana rasa nyeri dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Oleh karena itu penghilang rasa nyeri menjadi sangat populer.

    Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan, melindungi dan memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha bebas darinya. Salah satu contoh nyeri yaitu nyeri kepala sebelah.

    Obat analgesik dibedakan menjadi 2 macam, yaitu analgetik opioid dan analgesik non-narkotik. Analgetik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium yang berasal dari getah Papaverum somniferumyang mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya, morfin, codein, tebain, dan papaverin. Sering terjadi penyalahgunaan analgesik opioid karena adanya efek euforia dan ketagihan sehingga penggunaannya pun dibatasi.

    Obat nyeri atau obat antiinflamasi non steroid jika digunakan dalam jangka panjang dapat merugikan kesehatan, dari efek samping seperti sakit kepala, mual, muntah sampai kerusakan hati dan ginjal (Syamsul, et al. 2016).


    B. Proses Nyeri

    Nyeri adalah keadaan yang subjektif dimana seseorang memperlihatkan tidak nyaman secara verbal maupun nonverbal atau keduanya. Dapat akut atau kronis. Pengalaman nyeri terdiri dari 2 komponen : persepsi dan reaksi. Reaksi nyeri adalah apa yang dirasakan, dipikirkan seseorang dan hal-hal yang dirasakan nyeri. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi dan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan (Engram, 1994).

    Rasa sakit atau nyeri merupakan pertanda ada bagian tubuh yang bermasalah, yang merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi serta memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh seperti peradangan (rematik,encok), infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri timbul karena adanya rangsangan mekanis ataupun kimiawi, yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator (perantara) nyeri seperti bradikinin, histamin, serotonin, dan prostaglandin (Afrianti, et al. 2014).

    Rasa nyeri disebabkan rangsangan mekanis (benturan dengan benda tumpul) atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri. Sedangkan rasa nyeri pada gigi dapat disebabkan adanya infeksi atau peradangan. Kejang atau ketegangan otot dapat menimbulkan nyeri kepala. Mediator nyeri merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke susunan saraf pusat, melalui sumsum tulang belakang ke talamus kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai.

    2.      Reseptor nyeri
    Reseptor nyeri di dalam kulit dan jaringan lainnya merupakan ujung saraf bebas. Reseptor ini tersebar luas pada permukaan superfisial kulit dan juga di jaringan-jaringan dalam tertentu. Reseptor lainnya yang sensitif terhadap suhu panas atau dingin yang ekstrem disebut reseptor nyeri termosensitif yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut C yang tak bermielin. Reseptor ini mempunyai respon terhadap suhu dari 30oC-45oC dan pada suhu diatas 45oC, mulai terjadi kerusakan jaringan dan sensasinya berubah menjadi nyeri (Puspitasari, et al. 2003).

    3.      Proses merasakan nyeri
    Terdapat tiga jenis sel saraf yang berperan atau berpartisipasi dalam proses penghantaran nyeri yaitu :
    ·         sel syaraf aferen (neuron sensori)
    ·         serabut konektor (interneuron)
    ·         sel saraf eferen (neuron motoric)

    Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor ini khusus dan memulai impuls yang merespon stimulus nyeri  yang disebabkan oleh perubahan fisik dan kimia tubuh (reseptor yang berespon ini disebut “nosiseptor”). Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di system saraf pusat. Mediator nyeri mengakibatkan reaksi radang dan kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan dari neuron melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus, impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri. Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak.
    C. Cara Kerja Obat Anlgetik
    Mekanisme kerja obat analgetik merupakan sebuah mekanisme fisiologis tubuh terhadap zat-zat tertentu. Obat analgetik bekerja di dua tempat utama, yaitu di perifer dan sentral. Golongan obat AINS bekerja diperifer dengan cara menghambat pelepasan mediator sehingga aktifitas enzim siklooksigenase terhambat dan sintesa prostaglandin tidak terjadi. Sedangkan analgetik opioid bekerja di sentral dengan cara menempati reseptor di kornu dorsalis medulla spinalis sehingga terjadi penghambatan pelepasan transmitter dan perangsangan ke saraf spinal tidak terjadi.
    Prostaglandin merupakan hasil bentukan dari asam arakhidonat yang mengalami metabolisme melalui siklooksigenase. Prostaglandin yang lepas ini akan menimbulkan gangguan dan berperan dalam proses inflamasi, edema, rasa nyeri lokal dan kemerahan (eritema lokal). Selain itu juga prostaglandin . meningkatkan kepekaan ujung-ujung saraf terhadap suatu rangsangan nyeri (nosiseptif).
    Enzim siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Obat AINS memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin, dimana hal ini menghasilkan kedua efek yakni baik yang positif (analgesia, antiinflamasi) maupun yang negatif (ulkus lambung, penurunan perfusi renal dan perdarahan). Aktifitas COX dihubungkan dengan dua isoenzim, yaitu ubiquitously dan constitutive yang diekspresikan sebagai COX-1 dan yang diinduksikan inflamasi COX-2. COX-1 terutama terdapat pada mukosa lambung, parenkim ginjal dan platelet. Enzim ini penting dalam proses homeostatik seperti agregasi platelet, keutuhan mukosa gastrointestinal dan fungsi ginjal. Sebaliknya, COX-2 bersifat inducible dan diekspresikan terutama pada tempat trauma (otak dan ginjal) dan menimbulkan inflamasi, demam, nyeri dan kardiogenesis. Regulasi COX-2 yang transien di medulla spinalis dalam merespon inflamasi pembedahan mungkin penting dalam sensitisasi sentral.

    Sekian Mohon maaf bila ada kesalahan, Terimakasih telah berkunjung, Don't Forget Coment!!!

    Latest Tweets

    Total Pageviews