Laporan Anatomi dan Fisiologi Sistem Syaraf Lengkap


Laporan Anatomi dan Fisiologi Sistem Syaraf Lengkap

tentang farmasi
BAB I
PENDAHULUAN
I.1.       Latar Belakang
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat. Di dalam sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion(1:55)
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ (1:55)
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini, karena bahan yang digunakan merupakan suatu sediaan farmasi, berupa larutan injeksi yang  biasanya digunakan oleh manusia, dan kita juga dapat mengetahui, efek yang terjadi pada manusia, setelah dilakukan percobaan, dan mengkonversi obat dari hewan coba mencit (Mus musculus) ke manusia .
I.2.       Maksud dan Tujuan Percobaan
            I.2.1. Maksud percobaan
Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh pilokarpin, adrenalin dan NaCl dengan menggunakan kontrol positif aquadest.
I.2.2. Tujuan percobaan
Untuk dapat memahami efek berbagai obat sistem saraf otonom dalam pengendalian fungsi atau aktivitas organ viseral tubuh.Dan untuk dapat mengetahui efek dan mekanisme dari obat-obat sistem saraf otonom terutama pada sistem saraf parasimpatik.
I.3.       Prinsip Percobaan
Mengamati kerja obat pilokarpin, adrenalin dan NaCl pada mencit (Mus musculus) dengan melihat efek yang ditimbulkan pada mencit setelah pemberian obat-obat tersebut pada menit ke 5, 10 dan 15.


II.1.      Teori Umum
System saraf otonom adalah system saraf yang bekerja tanpa mengikuti kehendak dan kemauan kita. Misalnya detak jantung, mata berkedip, kesadaran, pernafasan maupun pencernaan makanan. Menurut fungsi dan tanda – tanda morfologinya system saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu, system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik (2:61).
   Pada umumnya system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik bekerja berlawanan tetapi dalam beberapa hal bersifat sinergis. Rangsangan dari susunan saraf pusat untuk sampai ke ganglion efektor memerlukan suatu penghantar yang disebut dengan neurotransmiter. Bila rangsangan tersebut berasal dari saraf simpatis maka neurohormon yang bekerja adalah noradrenalin (adrenalin) atau norepinephrin (epinefrin). Sebaliknya apabila rangsangan tersebut berasal dari saraf  parasimpatis, maka neurohormon yang bekerja adalah asetilkolin (2:64).
Untuk menghindari akumulasi dari neurohormon yang dapat mengakibatkan perangsangan saraf terus menerus maka neurohormon harus diuraikan oleh enzim khusus yang terdapat dalam darah maupun jaringan.

2.1     Penggolongan obat – obat system saraf otonom
Berdasarkan khasiatnya obat-obat saraf otonom dibagi menjadi(3:2012/04/05) :
o   Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatis:
1)     Simpatomimetik / adrenergik, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari saraf simpatis oleh noradrenalin, contohnya  efedrin, isoprenalin dll.
a)        Efedrin
Alkaloida dari tumbuhan Ephedra vulgaris yang sekarang ini dibuat secara sintetis. Digunakan pada penderita asma atas dasar efek bronkodilatasinya yang lama,dekongestiv dan midriatik. Efek samping dosis tinggi pada jantung yaitu cemas,
gelisah, sukar tidur, gemetaran dan takikardia serta kerja sentral. Pseudo efedrin
 merupakan isomer efedrin yang dikombinasikan dengan dengan obat-obat batuk dan pilek sedangkan norefedriun adalah turunan efedrin yang dikombinasikan dengan obat-obat asma dan batuk.
b)        Isoprenalin
Memiliki efek bronkodilatasi dan stimulasi jantung maka digunakan untuk pengobatan dan pencegahan serangan asma. Karena absorbsi dalam usus tidak sempurna maka biasanya digunakan dalam bentuk sublingual, inhalasi atau spray. Efek samping dosis tinggi pada jantung adalah berdebar, gelisah, gemetaran dan muka merah. Turunan yang paling sering digunakan adalah feneterol, terbutalin dan salbutamol.
2)    Simpatolitik / adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya  alkaloida sekale, propanolol, dll.
Khasiat yang terpenting adalah stimulasi otot polos terutama pembuluh darah perifer dan rahim dengan efek kontraksi otot uterus (oksitosik), vasokontriksi dan tekanan darah naik. Efek samping pada penggunaan lama dan dosis yang tinggi adalah matinya jaringan di ujung jari (gangrein) akibat vasokontriksi. Digunakan untuk menghentikan pendarahan setelah persalinan dan pada keadaan haid yang berlebihan.
o   Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatis:
1.    Para simpatomimetik / kolinergik
Kolenergik atau parasimpatomimetik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya (3).
Reseptor kolinergika terdapat dalam semua ganglia, sinaps, dan neuron postganglioner dari SP, juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal (3).
Reseptor ini, selain ikatannya dengan asetilkolin, mengikat pula muskarin, yaitu suatu alkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu. Sebaliknya, reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin. Dengan menggunakan study ikatan dan panghambat tertentu, maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor muskarinik seperti M1, M2, M3, M4, M5. Reseptor muskarinik dijumpai dalam ganglia sistem saraf tepi dan organ efektor otonom, seperti jantung, otot polos, otak dan kelenjar eksokrin. Secara khusus walaupun kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat dalam neuron, namun reseptor M1 ditemukan pula dalam sel parietal lambung, dan reseptor M2 terdapat dalam otot polos dan jantung, dan reseptor M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. Obat-obat yang bekerja muskarinik lebih peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi, tetapi dalam kadar tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula (3).
Sejumlah mekanisme molekular yang berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yang disebabkan setelah asetilkolin mengikat reseptor muskarinik. Sebagai contoh, bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan, maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan berinteraksi dengan protein G, yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. Akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol-(4,5)-bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan inositol (1,4,5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. Kation ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim atau menyebabkan hiperpolarisasi, sekresi atau kontraksi. Sebaliknya, aktivasi subtipe M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan mempertinggi konduktan K+, sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan menurun (3).
Reseptor ini selain mengikat asetilkolin, dapat pula mengenal nikotin, tetapi afinitas lemah terhadap muskarin. Tahap awal nikotin memang memacu reseptor nikotinik, namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. Reseptor nikotinik ini terdapat di dalam sistem saraf pusat, medula adrenalis, ganglia otonom, dan sambungan neuromuskular. Obat-obat yang bekerja nikotinik akan memacu reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi. Reseptor nikotinik pada ganglia otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat pada sambungan neuromuskulular. Sebagai contoh, reseptor ganglionik secara selektif dihambat oleh heksametonium, sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara spesifik dihambat oleh turbokurarin (3).
Stimulasi reseptor ini oleh kolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika, jadi bersifat berlawanan sama sekali. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi ringan, penguatan kegiatan jantung, juga stimulasi SSP ringan. Pada dosis rendah, timbul kontraksi otot lurik, sedangkan pada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan blokade neuromuskuler(4:15)
Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya, yaitu zat-zat dengan kerja langsung dan zat-zat dengan kerja tak langsung. Kolinergika yang bekerja secara langsung meliputi karbachol, pilokarpin, muskarin, dan arekolin (alkaloid dari pinang, Areca catechu). Zat-zat ini bekerja secara langsung terhadap organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip efek muskarin dari ACh. Semuanya adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dan sukar larut memasuki SSP, kecuali arekolin (4:15)
Sedangkan kolinergika yang bekerja secara tak langsung meliputi zat-zat antikolinesterase seperti fisostigmin, neostigmin, dan piridogstimin. Obat-obat ini merintangi penguraian ACh secara reversibel, yakni hanya untuk sementara. Setelah zat-zat tersebut habis diuraikan oleh kolinesterase, ACh segera akan dirombak lagi. Disamping itu, ada pula zat-zat yang mengikat enzim secara irreversibel, misalnya parathion dan organofosfat lainnya. Kerjanya panjang, karena bertahan sampai enzim baru terbentuk lagi. Zat ini banyak digunakan sebagai insektisid beracun kuat di bidang pertanian (parathion) dan sebagai obat kutu rambut (malathion). Gas saraf yang digunakan sebagai senjata perang termasuk pula kelompok organofosfat ini, misalnya Sarin, Soman, dan sebagainya (5 : 79).
Salah satu kolinergika yang sering digunakan dalam pengobatan glaukoma adalah pilokarpin. Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier dan stabil dari hidrolisis oleh asetilkolenesterase. Dibandingkan dengan asetilkolin dan turunannya, senyawa ini ternyata sangat lemah. Pilokarpin menunjukkan aktivitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftamologi. Penggunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi, dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu, sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Pilokarpin juga merupakan salah satu pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini tidak digunakan untuk maksud demikian. Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat yang dapat menurunkan tekanan bola mata baik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar. Obat ini sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular di sekitar kanal Schlemm, sehingga tekanan bola mata turun dengan segera akibat cairan humor keluar dengan lancar. Kerjanya ini dapat berlangsung sekitar sehari dan dapat diulang kembali. Obat penyekat kolinesterase, seperti isoflurofat dan ekotiofat, bekerja lebih lama lagi. Disamping kemampuannya dalam mengobati glaukoma, pilokarpin juga mempunyai efek samping. Dimana pilokarpin dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP. Obat ini merangsang keringat dan salivasi yang berlebihan (6 : 312)
2.    Parasimpatolitik / anti kolinergik
yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek kolinergik. Semua antikolinergik memperlihatkan kerja yang hampir sama tetapi daya afinitasnya berbeda terhadap berbagai organ, misalnya atropin hanya menekan sekresi liur, mukus bronkus dan keringat pada dosis kecil, tetapi pada dosis besar dapat menyebabkan dilatasi pupil mata, gangguan akomodasi dan penghambatan saraf fagus pada jantung. Antikolinergik juga memperlihatkan efek sentral yaitu merangsang pada dosis kecil tetapi mendepresi pada dosis toksik.
            Penggunaan :
Obat-obat ini digunakan dalam pengobatan untuk bermacam-macam gangguan, tergantung dari khasiat spesifiknya masing-masing, antara lain (6:313) :
ü  Spasmolitika, dengan meredakan ketegangan otot polos, terutama merelaksasi kejang dan kolik di saluran lambung-usus, empedu dan kemih.
ü  Midriatikum, dengan melebarkan pupil mata dan melemahkan akomodasi mata.
ü  Borok lambung-usus, dengan menekan sekresi dan mengurangi peristaltik
ü  Hiperhidrosis, dengan menekan sekresi keringat yang berlebihan
ü  Berdasarkan efeknya terhadap sistim saraf sentral
ü  Sedatif pada premedikasi operasi bersama anestetika umum.
ü  Parkinson.
Contoh obat (7:185) :
1)    Alkaloida Belladonna
Alkaloida yang didapat dari tanaman Atropa Belladonnae seperti hiosiamin, atropin dan skopolamin. Didapatkan juga dari tanaman Datura stramonium dan Hyoscyamus niger
2)    Atropin
Khasiat antikolinergiknya kuat, sedativa , bronkodilatasi ringan (guna melawan depresi pernafasan). Penggunaan sebagai midriatikum, spasmolitikum asma, batuk rejan, kejang pada lambung-usus serta antidotum yang paling efektif terhadap overdosis pilokarpin dan kolinergik lainnya. Turunan sintetiknya adalah Homatropin dan Benzatropin yang digunakan sebagai anti parkinson
operasi. Senyawa sintetiknya adalah metil dan butil skopolamin yang digunakan sebagai spasmolitik organ dalam
o     Senyawa-senyawa Ammonium Kwartener
      Senyawa ini mengandung Nitrogen bervalensi 5, bersifat basa kuat dan terionisasi baik, maka sulit melewati sawar darah otak sehingga tidak memiliki efek sentral. Khasiat antikolinergiknya lemah dengan kerja spasmolitik yang lebih kuat dari atropin dan efek samping lebih ringan. Penggunaan untuk meredakan peristaltik lambung-usus dan meredakan organ dalam. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: propantelin, oksifenium, mepenzolat, isopropamida dan ipratropium (7:186)
II.2. Uraian Hewan
II.2.1. Karakteristik Hewan Coba (8)
Mencit merupakan salah satu hewan pengerat dan mudah berkembang biak yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
Mencit (Mus musculus ).
Lama Hidup
                   : 1- 2 tahun, bisa sampai 3 tahun
Lama Bunting
                : 19 - 21 hari
Umur Disapih
                : 21 hari
Umur Dewasa
               : 35 hari
Siklus Kelamin
              : Poliestrus
Siklus Estrus
                 : 4-5 hari
Lama Estrus
                   : 12-24 jam
Berat Dewasa
                : 20-40 gram jantan;18-35 gram betina
Berat Lahir
                     : 0,5-1,0 gram
Jumlah anak
                  : rata-rata 6, bisa 15
Suhu (
rektal )                 : 35-39˚C( rata-rata 37,4˚C )
Perkawinan Kelompok
            : 4 betina dengan 1 jantan
Aktivitas
                          : Nokturnal (malam)
·               Sifat– sifat mencit :
1.    Pembauannya sangat peka yang memiliki fungsi untuk mendeteksi pakan, deteksi predator dan deteksi signal                (feromon).
2.    Penglihatan jelek karena sel konus sedikit sehingga tidak dapat melihat warna.
3.    Sistem sosial: berkelompok
4.     Tingkah laku:
a.) Jantan dewasa + jantan dewasa akan berkelahi
b.) Betina dewasa + jantan dewasa damai
c.) Betina dewasa + betina dewasa damai
            II.2.2. Klasifikasi Hewan Coba ( 8 )
Mencit ( Mus musculus )
Kingdom                     :   Animalia
Phylum                        :   Chordata
Sub Phylum               :   Vertebrata
Class                           :   Mamalia
Sub Class                   :   Rodentia
Family                          :   Muridae
Genus                         :   Mus
Spesies                       :   Mus musculus     


BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan yang digunakan
III.1.1 Alat yang digunakan :
1.    Papan datar bulat
2.    Alat suntik
III.1.2 Bahan yang digunakan
Ø  Pilokarpin
Ø  Adrenalin
Ø  NaCl
III.1.3 Hewan coba yang digunakan
Ø  Mencit (Mus musculus) jantan dan betina.
III.2. Cara kerja
1.    Ditimbang masing-masing mencit
2.    Dicari dosis pilokarpin dan adrenalin parental
3.    Dikonversi dosis yang akan diberikan dari manusia ke binatang
4.    Disuntikkan pilokarpin dan adrenalin masing-masing pada 3 ekor mencit jantan dan betina
5.    Diamati gejala yang timbul pada hewan percobaan, seperti : diare, diuresis, tremor, kejang, warna pembuluh darah telinga, salvias, keringat, air mata, eksoftalmus, straub, grooming, dan lainnya.
6.    Dibandingkan efek yang terjadi pada mencit jantan dan mencit betina .
III.2.1. Penyiapan Bahan
1.    Pembuatan pilokarpin
a.    Diambil cendo carpin 1 ml diadkan dengan aquadest sampai 4 ml.
b.    Diambil 1 ml dari larutan yang 4 ml, kemudian diadkan sampai 10 ml dengan aquadest.
c.    Diambil 1 ml dari larutan 10 ml, kemudian diadkan sampai 10 ml dengan aquadest.
2.    Pembuatan adrenalin
a.    Diambil adrenalin 1 ml diadkan dengan aquadest sampai 4 ml.
b.     Diambil 1 ml dari larutan yang 4 ml, kemudian diadkan sampai 10 ml dengan aquadest.
c.    Diambil 1 ml dari larutan 10 ml, kemudian diadkan sampai 10 ml dengan aquadest.
3.     Pembutan NaCl
a.  Diambil NaCl 1 ml diadkan dengan aquadest sampai 4 ml.
b. Diambil 1 ml dari larutan yang 4 ml, kemudian diadkan
sampai 10 ml dengan aquadest.
c. Diambil 1 ml dari larutan 10 ml, kemudian diadkan sampai
10 ml dengan aquadest.



III.2.2. Perlakuan Hewan Coba
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Dicari dosis pilokarpin, adrenalin dan NaCl parenteral.
3.    Dikonversi   dosis  dari  manusia  ke  hewan  coba     mencit     (Mus musculus)
4.    Ditimbang mencit (Mus musculus) yang akan diberi perlakuan.
5.    Disuntikkan pilokarpin, adrenalin dan NaCl pada masing-masing mencit (Mus musculus) yang akan diamati.
6.    Diamati gejala yang timbul pada mencit (Mus musculus) seperti miosis, midriasis,vasokonstriksi, vasodilatasi, grooming, straub, diare, tremor, keringat, eksoftalamus dan salivasi.










II.3 Uraian Bahan
a.    NaCl ( 9:403 )
Nama resmi     : NATRII CHLORIDUM
Nama lain        : natrium klorida
RIM / BM          : NaCl ( 58,44 )
Pemerian         : hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin.
Kelarutan        : larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan :  dalam wadah tertutup baik.
Khasiat            :  sumber ion klorida dan ion natrium.
b.    Pilokarpin (9:498 )
Nama resmi     : PILOCARPINI HYDROCHLORIDUM
Nama lain        : pilokarpina hidroklorida
RIM / BM          : C11H16N2O2,HCl ( 244,72 )
Pemerian        : hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa agak pahit, higroskopik.
Kelarutan        :  sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95%) P, sukar larut dalam kloroform P, praktis tidak larut dalam eter P.
Penyimpanan   :       dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Khasiat            :  parasimpatomimetikum, miotikum.
c.    Adrenalin (9:238 )
Nama resmi     :  EPINEPHRINUM
Nama lain        :  epinefrin
RIMBM             : C9H13NO3 (183,21)
Pemerian         :  serbuk hablur renik, putih atau putih kuning gading.
Kelarutan        :  agak sukar larut dalam air, tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P, mudah larut dalam larutan asam mineral, dalam natrium hidroksida P dan dalam kalium hidroksida P, tetapi tidak larut dalam larutan amonia dan dalam alkali karbonat. Tidak stabil dalam alkali atau netral, berubah menjadi merah jika kena udara.
Penyimpanan :  dalam wadah tertutup rapat berisi nitrogen, terlindung dari cahaya.
Khasiat            :  simpatomimetikum.








BAB IV
HASIL PENGAMATAN
No.

Efek

Pilokarpin
Adrenalin
NaCl









1
Miosis
-
-
+
-
-
-
-
-
-
2
Midriasis
-
-
-
-
+
+
-
-
-
3
Tremor
-
+
+
-
+
+
-
-
-
4
Esoftalamus
-
-
-
-
+
+
-
-
-
5
Straub
-
+
+
-
-
+
+
-
-
6
Vasodilatasi
-
-
+
-
-
+
-
-
-
7
Vasokontriksi
-
-
-
+
+
-
-
-
-
8
Salivasi
-
-
-
-
-
-
-
-
-
9
Diuresis
-
-
-
-
-
-
-
-
-
10
Grooming
+
+
+
-
+
+
+
+
-
11
Keringat
-
-
-
-
-
-
-
-
-
12
Diare
-
-
-
-
-
-
+
+
-


BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, sebelum dilakukan pemberian obat pada hewan coba, terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badannya, untuk menghitung dosis bahan uji (obat) yang akan diberikan.
           Setelah dilakukan penimbangan, dilakukan perhitungan konversi pemberian obat dari manusia ke mencit, Percobaan kemudian dilanjutkan dengan pemberian obat ke mencit, yaitu pilokarpin pada hewan coba yang memiliki berat timbangan 27 gram, Adrenalin pada mencit II dengan timbangan 22 gram, dan NaCl pada mencit III dengan timbangan 21 gram.
Dalam percobaan ini yang akan diamati dalah efek simpatis dan parasimpatis yang dihasilkan setelah dilakukan pemberian obat tersebut, dan membandingkan efek yang terjadi pada mencit jantan serta mencit betina, pada masing-masing obat. Namun mencit betina yang tersedia hanya 1 ekor, jadi pada mencit betina tersebut diinjeksikan setiap macam obat, sehingga hasil pengamatan yang didapatkan kurang valid dan tidak sesuai dengan efek yang seharusnya ditimbulkan, karena rentang waktu yang sangat singkat serta belum hilangnya efek obat yang sebelumnya, kemudian mencit tersebut diinjeksikan lagi dengan obat yang lainnya, sehingga efek yang dihasilkan bervariasi. Pada percobaan ini, seharusnya yang digunakan untuk membuat sediaan obat adalah aqua pro injeksi, karena diinjeksikan melalui peritoneal dan harus steril, namun pada percobaan ini yang digunakan adalah aquadest, sehingga tidak steril untuk digunakan intra peritonial dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai injeksi.
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat dilihat bahwa efek yang ditimbulkan oleh pilokarpin sudah sesuai dengan teori yang ada, di mana efek yang dihasilkan adalah miosis dan tremor, sedangkan untuk efek-efek yang lain yang telah disebutkan diteori tidak terjadi, hal ini disebabkan karena pembuatan obat yang tidak steril dan tidak sesuai dengan yang semestinya, begitu juga efek straub yang tidak seharusnya terjadi. Untuk efek yang dihasilkan adrenalin juga sudah sesuai dengan teori yaitu efek vasokonstriksi, midriasis, grooming dan eksoftalamus.
Untuk perbandingan efek antara mencit jantan dan betina tidak dapat diamati dengan baik, karena mencit betina yang tersedia hanya ada satu, sedangkan obat yang akan diberikan ada 3 macam .










BAB VI
PENUTUP
VI.1.    Kesimpulan
Dari pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh hasil : Bahwa, efek yang dihasilkan oleh hewan coba mencit ( Mus musculus ), dari pemberian adrenalin , pilokarpin, dan NaCl, telah sesuai dengan teori yang telah ada .
VI.2.    Saran
Sebaiknya, asisten selalu mengawasi praktikan, pada saat melakukan praktikum, agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan .


DAFTAR REFERENSI
1.    Pratiwi, DA. Biologi 2. Erlangga : Jakarta.1996.P.55
2.    Tan Hoan Tjay & Rahardja.Farmakologi.EGC:Surabaya.2002.P.59
3.    Anonim, 2006. Knowledge Antomi. Progam animasi
anatomi./2012/04/05
4.    Amrun Hidayat. M. 2005. Alkaloid Turunan Triptofan.P.15
5.    Betram. G. katzung. Farmakologi dasar dan klinik. EGC : Jakarta.
2004.P.79
6.    Jay,than hoon dan kirana,raharja. Obat-obat penting. Gramedia
Jakarta. 2002.P.312
7.    Mursyidi, achmad. Analisis metabolit sekunder. UGM : Yogyakarta.
1989.P.185
8.    Anonim.Trianandita.2011.http:// klasifikasi – hewan – coba –mencit . blogspot.com /2012/03/29

9.    Departemen Kesehatan RI.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta
1979.P.238-498.


  Untuk menjadi orang sukses bukanlah hanya sekedar bermalas-malasan tetapi penuh dengan perjuangn, rintangan yang mudah untuk dilewati. yang perlu di pertahankan hanyalah kerja keras, jangan menyerah serta terus berdo'a.

0 Response to "Laporan Anatomi dan Fisiologi Sistem Syaraf Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2