Cara Pembuatan Obat Herbal - Pharmacy
close
Profil Hiduplah seolah engkau mati besok, Belajarlah seolah engkau hidup selamanya.

Cara Pembuatan Obat Herbal

on Tuesday, December 25, 2018 - No comments:
Download Button

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan 

Dalam membuat sediaan herbal terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap khasiat dan keamanan Acuan Sediaan Herbal Volume Kedua  penggunaan sediaan herbal tersebut untuk pengobatan. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah: 

1) Identifikasi 
Sebelum menggunakan sediaan herbal sebagai obat harus dipastikan bahwa tidak menggunakan bahan tanaman yang salah. Menggunakan sediaan herbal yang salah dapat menimbulkan efek yang  tidak diinginkan atau keracunan. 

2) Peralatan 
Peralatan panci/wadah yang digunakan sebaiknya dari bahan gelas/ kaca, email atau stainless Steel. Gunakan pisau atau spatula/pengaduk yang terbuat dari bahan kayu atau baja, saringan dari bahan  plastik atau nilon. Jangan menggunakan peralatan dari bahan aluminium karena dapat bereaksi  dengan kandungan kimia tertentu dari tanaman yang mungkin toksis. 

3) Penimbangan dan pengukuran 
Pada umumnya timbangan dapur dapat digunakan walaupun dengan gelas ukur lebih akurat Ukuran gram atau liter lebih mudah dan umum digunakan dari pada ukuran besaran lainnya. Apabila  mendapat kesukaran dalam menimbangjumlah yang sedikit/kecil seperti 10 gram, maka dapat dilakukan dengan penimbangan 20 gram, kemudian hasil penimbangan dibagi dua 

4) Derajat kehalusan bahan tumbuhan obat 
Dalam penyarian bahan berkhasiat yang terdapat dalam bahan tumbuhan obat, derajat kehalusan merupakan hal yang penting. Derajat kehalusan bukan merupakan faktor tunggal yang  mempengaruhi proses pelepasan bahan berkhasiat, tetapi jumlah dan sifat alami dari bahan pendamping/ metabolit primer lain yang terdapat dalam bahan obat juga memegang peranan penting 

5) Penyimpanan 
Sediaan herbal yang berbeda dapat bertahan untuk jangka waktu yang berbeda sebelum mulai berkurang/kehilangan kandungan bahan beikhasiatnya. Simpanlah infus dan dekok di dalam lemari pendingin atau pada tempat yang teduh. Infus harus dibuat segar setiap hari (24 jam) dan dekok harus digunakan dalam waktu 48 jam. Tingtur dan sediaan cair lainnya seperti sirup dan minyak atsiri periu disimpan dalam botol berwarna gelap pada tempat yang teduh terlindung dari cahaya matahari dan dapat bertahan selama beberapa bulan atau tahun. 


Macam sediaan herbal Infusa (infus) 

Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu  90°C selama 15 menit. Pembuatan infus merupakan cara yang paling sederhana untuk membuat sediaan herbal dari bahan yang lunak seperti daun dan bunga. Dapat diminum panas atau dingin. 
Khasiat sediaan herbal umumnya karena kandungan minyak atsiri yang akan hilang apabila tidak  menggunakan penutup pada pembuatan infus. 

Pembuatan: 

Campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90°C sambil sekali-kali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Infus simplisia yang mengandung minyak atsiri, diserkai setelah  dingin. Infus simplisia yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon, ditambah larutan natriumkarbonat P10 % dari bobot simplisia. Kecuali dinyatakan lain dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah, infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk pembuatan 100 bagian inti» berikut digunakan sejumlah yang tettera. 


Kulit Kina 6 bagian 
DsjinDigtefis 0,5 bagian 
Akarlpeka 0.5 bagian 
Daun Kumis Kucing 0,5 bagian 
Sekale Komutum 3 bagian 
Daun Saja 4 bagian 
Temulawak 4 bagian 



Dekokta (Dekok) 

Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada suhu  90°C selama 30 menit Pembuatan: 

Campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu mencapai 90°C sambil sekali-kali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume dekok yang dikehendaki, kecuali dekok dari simplisia Condurango Cortex yang harus dilaksanakan setelah didinginkan terlebih dahulu jika tidak ditentukan perbandingan yang lain dan tidak mengandung bahan berkhasiat keras, maka untuk 100 bagian dekok harus dipergunakan 10 bagian dari bahan dasar atau simplisia. Untuk bahan berikut, digunakan sejumlah yang tertera. 

Bunga Amica 4 bagian 
Daun Digitalis 0,5 bagian 
Kulit Akarlpeka 0,5 bagian 
Kulit Kina 6 bagian 
Daun Kumis Kucing 0,5 bagian 
AkarSenega 4 bagian 

Tea (Teh) 

Pembuatan sediaan teh untuk tujuan pengobatan banyak dilakukan berdasarkan pengalaman seperti pada pembuatan infus yang dilakukan pada teh hitam sebagai minuman. 

Pembuatan: 

Air mendidih dituangkan ke simplisia diamkan selama 5-10 menit dan saring.  Pada pembuatan sediaan teh, beberapa hal periu diperhatikan: Jumlah simplisia dan air  Jumlah dinyatakan dalam takaran gram dan air dalam takaran ml. 

Derajat kehalusan simplisia: Untuk beberapa simplisia:  Daun, bunga dan herba: rajangan kasar dengan ukuran lebih kurang 4 mm. Kayu, kulit dan akar, rajangan agak kasar dengan ukuran lebih kurang 2,5 mm Buah dan biji digerus atau diserbuk kasar dengan ukuran lebih kurang 2 mm 

Simplisia yang mengandung alkaloid dan saponin: serbuk agak halus dengan ukuran lebih kurang 0,5 mm. 

Gargarisma dan kolutorium (Obat kumur dan obat cuci mulut) Obat kumur dan obat cuci mulut umumnya mengandung bahan tanaman yang berkhasiat sebagai astringen yang dapat 

mengencangkan atau melapisi selaput lendir mulut dan tenggorokan dan tidak dimaksudkan agar obat menjadi pelindung selaput lendir. Obat kumur dan obat cuci mulut dibuat dari sediaan infus, dekok atau tingtur yang diencerkan. 



Penyimpanan : 

Dalam wadah bempa botol berwarna susu atau wadah lain yang sesuai. Pada etiket harus juga tertera: 

1. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan 

2. “Hanya untuk kumur, tidak boleh ditelan”. 



Sirupi (Sirup) 

Sirup adalah sediaan berupa larutan dari atau yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakrosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0 %. 

Pembuatan: 

Kecuali dinyatakan lain, sirup dibuat sebagai berikut: Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot  yang dikehendaki, buang busa yang teijadi, serkai. Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon, ditambahkan natrium karbonat sejumlah 10% bobot simplisia. Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben  0,25% b/v atau pengawet lain yang sesuai. 


Tinctura (Tingtur) 

Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia dalam pelarut yang tertera pada masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat menggunakan  20% zat khasiat dan 10% untuk zat khasiat keras. 

Pembuatan: Maserasi: 
Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut: 

Masukkan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkan selama 5 hari terlindung dari  cahaya sambil sering diaduk, serkai, per as, cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga  diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana tertutup, biarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Enap tuangkan atau saring. 

Perkolasi: 

Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut: 

Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 
selama 3 jam. Pindahkan massa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati- hati, tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan lml per menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa, campurkan cairan perasan ke dalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam sebuah bejana, tutup, biarkan selama 2 hari di tempat sejuk, terlindung dari cahaya Enap tuangkan atau saring. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian perkolat, tetapkan kadarnya Atur kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu encerkan dengan penyari secukupnya 


Extracta (Ekstrak) 

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan penyari simplisia menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. 

Cairan penyari. 

Sebagai cairan penyari digunakan air, eter, etanol atau campuran etanol dan air. 

Pembuatan: Penyarian: 

Penyarian simplisia dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan-cara maserasi atau perkolasi. Penyarian  dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. 


Maserasi: 

Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada Tinctura. Suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50°C hingga konsistensi yang dikehendaki. 

Perkolasi: 

Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada Tinctura. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam, biarkan cairan menetes, tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan, tidak meninggalkan sisa. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50°C hingga konsistensi yang dikehendaki. Pada pembuatan ekstrak cair, 0,8 bagian perkolat pertama dipisahkan, perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0,2 bag ian, campur dengan perkolat pertama. Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol, dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. 

Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air.: 

Hangatkan segera pada suhu lebih kurang 90°C, enapkan, serkai. Uapkan serkaian pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50°C hingga bobot sama dengan bobot simplisia yang digunakan.  Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam, serkai, uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih  dari 50°C hingga konsistensi yang dikehendaki. 

Ekstrak (air dengan penyari etanol): 

Hasil akhir harus dibiarkan di tempat sejuk selama 1 bulan, kemudian disaring sambil mencegah penguapan. 


Pustaka 

1 Dr. C J'. Van Duin. Ilmu Resep, PT Soeroengan, Edisi 2, 1954, Jakarta, 73-79. 

2 Anon vmous. Parmacopee Belanda, Edisi V, 188-189. 

3 Andrew Chevallier Mnimh, The Encyclopedia of Medicinal Plants, Dorling Kindersley, 290-291. 

4 Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta. 

5 Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia. Edisi IV, Jakarta. 

Tagged as:
Dede Taufiq Tentang Dede Taufiq

Salam Farmasi Indonesia, artikel yang dibuat insyaallah berasal dari sumber terpercaya, baik itu dari site, buku, ataupun jurnal .Tetapi bila ada kesalahan silahkan beritahu saya. ^-^ .

Get Updates

Subscribe, Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru

Share This Post

Related posts

0 komentar:

© 2016 Pharmacy. WP Theme-Taufiq converted by Dede Taufiq
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.